Saat Band Bubar Tapi Rasa Bangga Pernah Berjuang Bareng Tetap Ada
Ada satu fase yang rasanya hampir semua anak band pernah lewat: momen ketika band yang dulu dibangun bareng-bareng akhirnya bubar.
Bukan karena kurang sayang musik, bukan karena mimpi itu palsu, tapi karena hidup memang sering datang dengan jalannya sendiri-sendiri.
Ada yang sibuk kuliah, ada yang harus kerja, ada yang pindah kota, ada yang mulai punya beban, dan ada juga yang pelan-pelan sadar kalau idealisme di ruang latihan itu kadang harus beradu sama realita yang nggak bisa diajak kompromi.
Di titik itu, bubarnya band memang nyesek. Bukan cuma soal kehilangan panggung, kehilangan jadwal manggung, atau kehilangan rutinitas latihan tiap minggu.
Yang lebih berat justru kehilangan satu “rumah” kecil yang selama ini dibangun dari suara distorsi, tawa receh, debat setengah ngos-ngosan, dan mimpi yang dulu terasa kayak bisa dikejar terus tanpa takut capek.
Tapi anehnya, meski bandnya bubar, rasa bangga itu nggak ikut mati. Malah kadang justru baru kerasa penuh setelah semuanya selesai.
Karena saat band udah nggak aktif lagi, kita jadi sadar betapa besar perjuangan yang pernah dijalanin bareng-bareng.
Dulu kita mungkin cuma mikir soal setlist, soal kapan rekaman, soal gig berikutnya, soal siapa yang telat datang latihan, soal uang yang suka lenyap pas lagi dibutuhin.
Tapi kalau dilihat ke belakang, ternyata semua itu bukan hal kecil. Itu semua adalah potongan perjalanan yang bikin kita tumbuh.
Kita pernah belajar sabar nungguin drummer yang belum datang, belajar ngalah waktu ide lagu ditolak, belajar tahan ego biar satu lagu bisa jadi milik bersama, dan belajar tetap berdiri meski di panggung penontonnya cuma segelintir orang.
Di situ ada nilai yang nggak semua orang bisa paham, karena buat anak band, perjuangan bareng itu bukan sekadar kenangan. Itu bagian dari jati diri.
Makanya, ketika band bubar, yang tinggal bukan cuma rasa kehilangan. Ada juga rasa di luar nalar yang susah dijelasin.
Semacam rasa, “Wah, ternyata kita pernah sejauh itu ya.” Pernah ngangkat gear sendiri, pernah ngirit demi bayar studio, pernah bikin lagu dari curhat yang nggak sanggup diucapin langsung, pernah tampil dengan baju seadanya tapi hati rasanya paling penuh, dan pernah ngerasain deg-degan yang sama-sama ditahan sebelum naik panggung.
Semua itu mungkin udah jadi masa lalu, tapi masa lalu itu bukan sesuatu yang harus disesali habis-habisan.
Justru dari situ kita tahu bahwa kita pernah serius sama sesuatu. Pernah berani percaya sama mimpi yang mungkin kelihatannya sederhana di mata orang lain, tapi buat kita itu segalanya.
Walaupun sekarang masing-masing jalan sendiri, nggak ada yang bisa ngapus fakta bahwa dulu kita pernah jadi satu tim yang berisik, kacau, capek, tapi hidup banget.
Yang paling bikin berat dari band bubar sebenarnya bukan perpisahannya, tapi kesadaran bahwa orang-orang yang dulu paling ngerti ritme hidup kita sekarang udah nggak lagi ada di posisi yang sama.
Dulu cukup satu tatapan buat ngerti, cukup satu nada buat tahu ada yang lagi bad mood, cukup satu obrolan di parkiran studio buat ngerasa besok masih ada harapan. Sekarang semua udah beda.
Tapi justru karena pernah ada di fase seintim itu, rasa bangga terhadap perjalanan bareng jadi makin besar.
Kita nggak cuma pernah main musik bareng, kita pernah saling angkat pas lagi jatuh. Kita pernah bikin satu sama lain tetap jalan waktu semangat lagi habis. Dan itu bukan hal yang bisa dianggap enteng.
Nggak semua orang punya kesempatan buat ngerasain hidup dalam bentuk yang sejujur dan seberantakan itu.
Anak band tahu rasanya punya saudara bukan karena darah, tapi karena bunyi, waktu, dan perjuangan.
Jadi band yang bubar bukan berarti semua yang pernah dibangun ikut sia-sia. Justru sebaliknya, itu bukti kalau dulu kita pernah benar-benar hidup di dalam mimpi itu.
Pernah total. Pernah nekat. Pernah berharap. Pernah gagal. Pernah jatuh. Pernah bangkit lagi.
Dan dari semua itu, yang paling awet bukan lagi nama bandnya, bukan lagi logo, bukan lagi folder rekaman yang masih nyempil di laptop lama.
Yang paling awet adalah rasa bangga karena pernah berjuang bareng. Rasa bangga karena pernah saling percaya. Rasa bangga karena pernah menciptakan sesuatu yang lahir dari kebersamaan, meski akhirnya jalan hidup memisahkan.
Jadi kalau suatu hari bandmu bubar, jangan langsung anggap itu akhir dari segalanya. Kadang itu cuma tanda bahwa satu bab udah selesai, sementara nilai dari bab itu tetap tinggal selamanya.
Dan kalau kata Nenek, buat anak band itu udah lebih dari cukup buat diteundeun di handeuleum sieum, ditunda di hanjuang siang, paranti nyokot ninggalkeun geusan sampeureun urang jaga.
