Postingan

Masa-Masa Nge-Band yang Susah Banget Dilupakan Meski Band-nya Sudah Bubar

Gambar
Ada fase dalam hidup anak band yang anehnya nggak benar-benar pergi, meskipun orang-orangnya sudah jalan masing-masing, studio latihannya sudah jarang didatangi, grup chat band sudah tenggelam di bawah tumpukan notifikasi lain, dan nama band yang dulu terasa keren banget sekarang cuma jadi bahan senyum-senyum sendiri kalau tiba-tiba keingat.  Masa-masa nge-band adalah salah satu fase itu. Kelihatannya sederhana: beberapa orang kumpul, bawa gitar, bass, drum, vokal seadanya, lalu latihan lagu yang sama berkali-kali sampai tetangga studio hafal duluan.  Tapi di balik semua itu, ada perasaan yang susah dijelaskan. Ada semangat yang dulu datang bukan karena dibayar, bukan karena terkenal, bahkan bukan karena yakin bakal sukses, tapi karena rasanya menyenangkan saja bisa punya mimpi bareng.  Dan justru karena semuanya dimulai dari hal-hal yang polos, berantakan, dan penuh harapan, kenangannya jadi susah banget dilupakan. Waktu masih nge-band, hidup terasa punya panggung sendir...

Dulu Kita Anak Band dan Sekarang Jadi Orang yang Diam-Diam Masih Rindu Panggung

Gambar
Dulu, kita pernah jadi anak band dengan segala gaya sok kuatnya. Bukan cuma soal pegang gitar, gebuk drum, nyanyi di depan mic, atau nongkrong di studio rental sambil nunggu giliran latihan. Lebih dari itu, jadi anak band dulu rasanya kayak punya dunia sendiri.  Dunia yang berisik, sempit, kadang bau rokok, penuh kabel kusut, ampli mendengung, senar putus, stik drum patah, dan suara vokalis yang kadang fals tapi tetap pede karena merasa lagunya sudah paling dalam sedunia.  Kita pernah hidup di masa ketika jadwal latihan terasa lebih penting daripada urusan lain, ketika uang jajan bisa habis cuma buat bayar studio satu jam, beli air mineral, rokok Star Mild, atau patungan bensin motor buat datang ke acara pensi yang honor-nya kadang cuma ucapan “makasih ya, keren banget tadi.”  Tapi anehnya, semua itu tetap terasa menyenangkan. Bahkan sekarang, ketika dipikir ulang, bagian-bagian yang dulu bikin capek justru jadi hal yang paling dirindukan. Sekarang hidup sudah beda. Dulu ...

Kangen Masa Nge-Band Dulu Waktu Hidup Masih Isinya Mimpi dan Distorsi

Gambar
Ada masa di hidup yang kalau diingat-ingat rasanya kayak kaset lama yang diputar lagi di kepala. Suaranya mungkin sudah agak noise, memorinya mungkin sudah nggak terlalu jernih, tapi feel-nya masih utuh banget.  Masa itu adalah masa nge-band, waktu hidup masih isinya mimpi, distorsi, bau studio rental, double pedal, kabel jack yang suka kresek-kresek, dan obrolan nggak penting yang entah kenapa sekarang justru terasa paling berharga.  Dulu kita mungkin belum punya apa-apa. Uang pas-pasan, alat pinjam sana-sini, skill juga belum seberapa, tapi percaya diri bisa setinggi ampli Marshall di panggung festival.  Kita datang ke studio bawa gitar, stik drum, bass, atau cuma modal suara yang bagusnya nanggung, lalu merasa dunia ini bisa ditaklukkan hanya dengan satu lagu ciptaan sendiri yang belum tentu semua personel hafal chord-nya.  Hidup waktu itu belum serumit cicilan, deadline kerja, tagihan bulanan, urusan ini-itu, dan drama kehidupan lainnya.  Yang dipikirkan sed...

Self Care Routine Sederhana yang Bisa Kamu Lakukan di Rumah

Self care itu nggak harus selalu kelihatan estetik seperti yang sering muncul di media sosial: mandi busa di bathtub mewah, lilin aromaterapi mahal, skincare satu lemari, atau liburan healing ke tempat yang jauh.  Kadang, self care yang paling kamu butuhkan justru hal-hal sederhana yang bisa kamu lakukan di rumah, tanpa keluar banyak uang, tanpa harus menunggu waktu luang yang sempurna, dan tanpa harus terlihat keren di mata orang lain.  Karena pada dasarnya, self care bukan soal memanjakan diri secara berlebihan, tapi soal merawat diri dengan sadar.  Merawat tubuh yang sudah capek, merawat pikiran yang terlalu penuh, merawat hati yang mungkin diam-diam sedang lelah, dan memberi ruang untuk diri sendiri supaya nggak terus-terusan hidup dalam mode “bertahan”.  Banyak orang mengira self care itu egois, padahal justru sebaliknya. Kalau kamu terus memaksa diri tanpa jeda, terus mengurus semua hal tanpa pernah mengecek kondisi diri sendiri, lama-lama kamu bisa kehilangan ...

Merasa Nggak Cukup? Saatnya Bangun Self Worth Kamu

Kamu pernah gak, ngerasa sudah berusaha, sudah capek-capek melakukan banyak hal, sudah mencoba jadi versi terbaik dari diri sendiri, tapi tetap aja ada suara kecil di kepala yang bilang, “Kayaknya aku masih kurang deh.”  Kurang pintar, kurang menarik, kurang sukses, kurang kaya, kurang dikenal, kurang punya pencapaian, kurang ini, kurang itu, sampai akhirnya hidup terasa seperti lomba yang nggak ada garis finish-nya.  Kamu melihat orang lain kelihatan lebih maju, lebih rapi hidupnya, lebih dipercaya, lebih mudah, lebih mudah dihargai, lalu pelan-pelan kamu mulai membandingkan diri sendiri.  Padahal yang kamu lihat dari hidup orang lain sering kali cuma bagian depannya saja. Kayak lihat etalase toko: lampunya terang, produknya tertata cantik, kelihatan mewah.  Tapi kamu nggak tahu stok di belakangnya berantakan atau nggak, pemiliknya pusing bayar sewa atau nggak, karyawannya sedang drama atau nggak.  Begitu juga hidup orang lain. Kamu cuma lihat highlight-nya, bu...

Kisah Horor Pesugihan Mas Antam

Malam itu, hujan turun nggak sopan. Bukan hujan yang romantis buat minum kopi sambil dengerin lagu galau, tapi hujan deras yang bunyinya kayak ribuan jari ngetuk genteng rumah tua.  Di sebuah kampung kecil yang jauh dari jalan besar, tinggal seorang laki-laki bernama Mas Antam. Orang-orang mengenalnya sebagai pria biasa.  Rumahnya sederhana dan hanya punya motor tua. Tapi anehnya, dalam beberapa bulan terakhir, hidup Mas Antam berubah drastis.  Rumah reyotnya tiba-tiba direnovasi jadi bangunan megah dua lantai. Halamannya dipasang pagar tinggi warna hitam mengkilap. Motornya yang dulu sering mogok diganti mobil baru.  Warga kampung mulai bisik-bisik, “Mas Antam ini kerja apa sih sebenarnya?” Karena setahu mereka, Mas Antam cuma dagang kecil-kecilan di pasar. Penghasilannya jelas nggak masuk akal buat beli semua itu.  Dari situlah rumor mulai lahir, tumbuh, dan menyebar seperti asap dupa di malam Jumat: katanya, Mas Antam ikut pesugihan. Awalnya Mas Antam cuma t...

Self Discipline "Rahasia Konsisten Tanpa Harus Nunggu Mood"

Self discipline itu sering banget disalahpahami seolah-olah cuma soal jadi orang yang kaku, disiplin ala robot, atau hidup dengan aturan yang bikin napas serasa sempit.  Padahal kalau dipikir-pikir, self discipline justru adalah bentuk sayang paling nyata ke diri sendiri.  Karena, hidup itu nggak selalu nunggu kita lagi semangat, nggak selalu kasih suasana yang pas, dan nggak selalu menyediakan mood yang stabil setiap hari.  Ada hari-hari ketika kita pengin gerak cepat dan produktif, tapi ada juga hari-hari ketika badan rasanya berat, pikiran berisik, dan hati maunya rebahan aja.  Nah, di titik itu self discipline jadi pembeda antara orang yang cuma menunggu suasana enak dan orang yang tetap jalan walau suasana lagi nggak mendukung.  Bukan karena mereka nggak capek, bukan karena mereka selalu termotivasi, tapi karena mereka paham bahwa hasil besar biasanya dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus, bahkan ketika tidak ada dorongan apa-apa selain...