Postingan

HUT RI di Mata Anak Band

Gambar
Bagi sebagian orang, HUT RI atau Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia identik dengan logo, upacara bendera, lomba tujuh belasan, dan deretan dekorasi merah putih yang menghiasi jalanan.  Tapi kalau dilihat dari sudut pandang anak band, HUT RI punya warna yang sedikit berbeda.  Ada semangat yang terasa dekat dengan dunia musik, yaitu semangat perjuangan, kebersamaan, dan keberanian untuk terus berkarya meskipun banyak tantangan menghadang.  Anak band mungkin tidak berjuang di medan perang seperti para pahlawan dahulu, tetapi mereka memahami rasanya berjuang dari nol, mengangkat alat musik sendiri ke panggung kecil, latihan berjam-jam di studio sempit, hingga tampil di depan penonton yang jumlahnya kadang bisa dihitung dengan jari.  Dari situ, makna kemerdekaan terasa lebih personal. Kemerdekaan bukan cuma soal bebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kebebasan berekspresi, menciptakan karya, dan menyuarakan isi hati melalui musik.  Di mata anak band,...

Membongkar Filosofi Anak Band yang Gak Banyak Orang Tahu

Gambar
Kalau ngomongin Filosofi Anak Band, sebenarnya kita lagi ngomongin sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar orang yang jago main alat musik, duduk di studio, terus nongkrong sambil bawa alat musik ke sana kemari.  Anak band itu sering banget dianggap identik sama penampilan nyentrik, rambut agak berantakan, baju hitam, dan obrolan yang isinya musik, panggung, atau lagu-lagu galau.  Padahal di balik semua itu, ada cara pandang hidup yang unik banget. Anak band biasanya tumbuh dari proses panjang, dari latihan yang capek, gagal manggung, alat rusak, band bubar, sampai mulai lagi dari nol.  Dari situ, lahir semacam filosofi bahwa hidup itu memang nggak selalu mulus, tapi tetap harus dijalani dengan totalitas. Mereka paham banget kalau sesuatu yang bagus itu nggak datang instan.  Sama seperti bikin lagu yang enak didengar, hidup juga butuh proses, pengulangan, revisi, dan kadang harus berantem dulu sama rasa kecewa sebelum akhirnya nemu bentuk yang pas. Filosofi an...

Dulu Manggung Dibayar Nasi Bungkus Tapi Rasanya Kayak Konser Besar

Gambar
Dulu, waktu manggung cuma dibayar nasi bungkus, rasanya tetap kayak lagi tampil di konser besar. Aneh ya, tapi justru momen-momen kayak gitu yang paling nempel di kepala.  Bukan karena bayaran mahal, bukan karena panggung megah, apalagi karena lighting yang wah, tapi karena ada rasa bangga yang susah dijelasin.  Begitu naik panggung, lihat orang-orang mulai ngumpul, dengerin lagu yang kita bawain, terus ikut nyanyi walau kadang suaranya setengah-serak, rasanya semua capek, semua perjalanan jauh, semua kerepotan bawa alat, dan semua drama sebelum tampil langsung hilang begitu aja.  Nasi bungkus itu mungkin kelihatannya receh di mata orang lain, tapi buat anak band, itu bisa jadi simbol perjuangan yang super berasa.  Ada rasa, “Wah, kita beneran dihargai nih,” meskipun bentuknya sederhana banget. Dan anehnya, justru yang sederhana itu sering lebih ngena daripada hadiah yang kelihatannya mewah tapi hambar. Waktu-waktu begitu juga ngasih pelajaran kalau musik itu bukan c...

Anak Band Lama Selalu Punya Cerita yang Nggak Pernah Habis

Gambar
Anak band lama itu memang punya sesuatu yang beda. Bukan cuma karena mereka pernah pegang gitar lebih sering daripada pegang HP, atau karena dulu rambutnya lebih sering kena hairspray daripada angin AC.  Lebih dari itu, mereka punya jejak hidup yang penuh kejadian. Dari mulai latihan di studio musik yang sempit, kejar-kejaran tampil dari satu panggung ke panggung lain, sampai drama internal yang kadang lebih rame dari konsernya sendiri.  Makanya kalau anak band lama mulai ngobrol, ceritanya itu nggak pernah habis. Baru mulai satu kisah, eh ujung-ujungnya nyambung ke cerita lain yang bahkan kita nggak nyangka masih ada hubungannya. Tapi justru di situ serunya.  Mereka bukan cuma bercerita, mereka kayak sedang membuka album hidup yang isinya bukan foto doang, tapi juga luka, tawa, kegagalan, keberuntungan, dan momen-momen absurd yang kalau dipikir-pikir sekarang malah bikin ketawa sendiri. Soalnya dunia band itu memang bukan dunia yang rapi-rapi amat. Di balik panggung yang...

Nostalgia Anak Band Waktu Mimpi Masih Lebih Besar dari Uang Jajan

Gambar
Dulu, jadi anak band itu rasanya kayak punya dunia sendiri. Uang jajan memang pas-pasan, kadang habis duluan sebelum minggu berakhir, tapi anehnya mimpi tetap penuh dan nggak ada habisnya.  Waktu itu kita nggak terlalu mikirin tampil keren di mata orang, nggak terlalu pusing soal hasil akhir, apalagi soal untung-rugi.  Yang penting ada gitar, ada drum, ada lirik yang belum sempurna, dan ada teman-teman yang sama-sama lagi berusaha bikin sesuatu dari nol.  Latihan di ruang sempit, suara cempreng dari speaker murahan, jek yang sering ngadat, dan jari yang sakit karena kebanyakan main gitar itu malah jadi bagian dari kenangan yang sekarang kalau diingat rasanya hangat banget.  Anehnya, justru di masa-masa serba sederhana itu, hidup terasa paling hidup. Kita nggak punya banyak uang, tapi punya banyak alasan buat terus jalan. Kita nggak punya panggung besar, tapi punya semangat yang besar banget. Dan di situlah letak manisnya jadi anak band: semua terasa sederhana, tapi h...

Band Kita Memang Sudah Bubar Tapi Ceritanya Masih Hidup Sampai Sekarang

Gambar
Band kita memang sudah bubar, sudah lama malah. Latihan berhenti, grup chat sepi, panggung terakhir lewat begitu saja, lalu masing-masing kita sibuk sama hidupnya sendiri.  Tapi yang orang nggak lihat, dan mungkin nggak bakal pernah benar-benar paham, adalah betapa panjang cerita di balik kebubaran itu. Karena bubar bukan berarti semua habis.  Kadang yang selesai itu cuma bentuk fisiknya aja, sementara isi kepalanya, rasa deg-degannya, tawa recehnya, ribut kecilnya, dan semua kenangan yang nempel di tiap lagu masih jalan terus di dalam diri.  Band itu mungkin sudah nggak ada di atas kertas, nggak ada jadwal latihan lagi, nggak ada lagi suara hitung “satu dua tiga” sebelum mulai main, tapi ceritanya tetap hidup, muter terus, dan anehnya malah makin jelas seiring waktu berjalan.  Semakin jauh kita dari masa itu, semakin kelihatan kalau band itu bukan cuma soal musik. Itu soal mimpi yang dibawa bareng-bareng, soal ego yang saling tabrakan, soal persahabatan yang diuji, ...

Dulu Ribut Karena Salah Chord Sekarang Rindu Sama Orang-Orangnya

Gambar
Dulu ribut cuma gara-gara salah chord itu sekarang rasanya malah jadi kenangan yang susah diganti sama apa pun. Waktu itu mungkin kelihatannya sepele, satu orang salah masuk, satu orang keburu kesel, terus suasana latihan langsung panas kayak ampli yang dinyalain full volume.  Ada yang ngedumel, ada yang membela diri, ada juga yang diam-diam ngambek sambil nunggu giliran buat ngomel. Tapi anehnya, justru momen-momen kayak gitu yang sekarang paling gampang bikin senyum sendiri.  Soalnya kalau dipikir-pikir, dulu kita ribut bukan karena benci, bukan karena nggak cocok, tapi karena kita sama-sama peduli.  Peduli sama lagu yang dibawain, peduli sama hasil yang pengin bagus, dan peduli sama band ini biar nggak asal jalan.  Emang dulu capek, emang dulu emosi, tapi di tengah ribut itu ternyata ada sesuatu yang bikin semua terasa hidup.  Ada rasa punya tujuan bareng, ada rasa “kita lagi berjuang sama-sama,” walaupun caranya kadang bikin kepala pengin ngebentur stand mic...