Saat Band Bubar Tapi Rasa Bangga Pernah Berjuang Bareng Tetap Ada
Ada satu fase yang rasanya hampir semua anak band pernah lewat: momen ketika band yang dulu dibangun bareng-bareng akhirnya bubar. Bukan karena kurang sayang musik, bukan karena mimpi itu palsu, tapi karena hidup memang sering datang dengan jalannya sendiri-sendiri. Ada yang sibuk kuliah, ada yang harus kerja, ada yang pindah kota, ada yang mulai punya beban, dan ada juga yang pelan-pelan sadar kalau idealisme di ruang latihan itu kadang harus beradu sama realita yang nggak bisa diajak kompromi. Di titik itu, bubarnya band memang nyesek. Bukan cuma soal kehilangan panggung, kehilangan jadwal manggung, atau kehilangan rutinitas latihan tiap minggu. Yang lebih berat justru kehilangan satu “rumah” kecil yang selama ini dibangun dari suara distorsi, tawa receh, debat setengah ngos-ngosan, dan mimpi yang dulu terasa kayak bisa dikejar terus tanpa takut capek. Tapi anehnya, meski bandnya bubar, rasa bangga itu nggak ikut mati. Malah kadang justru baru kerasa penuh sete...