Masa Nge-Band Dulu Mungkin Berantakan Tapi Justru Itu yang Bikin Kangen
Masa-masa nge-band dulu itu memang jauh dari kata rapi. Jadwal latihan sering kacau, satu orang datang telat, satu orang lagi tiba-tiba hilang kabar, terus alat musik pun kadang lebih banyak drama daripada musiknya sendiri.
Ada kalanya latihan cuma berujung ngobrol, bercanda, ngopi, dan akhirnya bubar tanpa hasil yang jelas. Tapi anehnya, justru dari semua kekacauan itu lahir kenangan yang paling susah dilupain.
Karena di balik berantakannya segalanya, ada rasa yang tulus. Ada semangat yang mentah tapi jujur. Ada mimpi besar yang waktu itu mungkin belum terlalu jelas bentuknya, tapi cukup kuat buat bikin kita tetap balik lagi ke ruang latihan, ke studio sempit, ke garasi rumah teman, atau ke panggung kecil yang alakadarnya.
Kalau dipikir-pikir sekarang, masa nge-band dulu itu kayak paket lengkap antara capek, emosi, lucu, dan bahagia dalam satu waktu.
Pernah ribut soal aransemen lagu, pernah debat karena tempo terlalu cepat, pernah juga saling ngambek cuma gara-gara satu bagian intro gak ketemu-ketemu. Tapi setelah semuanya lewat, kita malah ketawa sendiri kalau ingat momen-momen itu.
Dulu hal kecil bisa terasa gede banget, seolah-olah satu nada yang salah bisa bikin dunia runtuh.
Padahal sekarang, setelah jalan hidup makin jauh, kita sadar kalau itu semua justru bagian paling hidup dari perjalanan.
Masa-masa ketika kita masih nekat, masih idealis, masih percaya kalau band kita bisa jadi sesuatu yang besar, meskipun kenyataannya yang paling sering kita hadapi cuma panas, capek, suara sumbang, dan dompet tipis.
Yang bikin kangen bukan cuma musiknya. Yang bikin kangen itu suasananya. Aroma ruang latihan yang pengap, mic yang sering lenyap suaranya, ampli yang bunyinya kadang lebih nyaring dari semangat kita, dan obrolan receh yang gak pernah habis walau udah larut malam.
Kangen juga sama rasa deg-degan sebelum tampil, tangan dingin waktu pegangan gitar, jantung yang rasanya mau loncat pas nama band kita dipanggil ke panggung.
Dan walaupun tampilnya mungkin gak sempurna, walaupun ada lirik yang lupa, walaupun drum sempat ngaco, ada kepuasan yang gak bisa ditukar sama apa pun.
Karena di saat itu, kita bukan cuma lagi main musik. Kita lagi hidup sepenuh-penuhnya. Kita lagi jadi versi diri kita yang paling berani, paling apa adanya, dan paling gak peduli sama penilaian orang.
Sekarang, setelah waktu berjalan dan masing-masing sibuk dengan hidupnya sendiri, kenangan itu justru terasa makin mahal.
Teman-teman band dulu mungkin sudah punya jalan masing-masing, ada yang kerja, ada yang hilang, ada yang pindah kota, ada yang masih sesekali nyentuh alat musik, ada juga yang diam-diam cuma bisa denger lagu lama sambil senyum kecil.
Tapi setiap kali nama band lama disebut, atau setiap kali ada lagu yang dulu sering dibawain bareng, semuanya kayak balik lagi dalam satu detik.
Kita ingat lagi bagaimana dulu kita bermimpi besar dengan peralatan seadanya. Kita ingat lagi bagaimana rasanya punya kebersamaan yang sederhana tapi sangat berarti.
Dan dari situlah kita sadar, mungkin masa nge-band dulu berantakan, gak teratur, bahkan sering bikin pusing, tapi justru karena itulah semua terasa nyata. Gak dibuat-buat. Gak palsu. Dan gak akan pernah tergantikan.
Mungkin sekarang hidup sudah lebih rapi, lebih tenang, lebih masuk akal. Tapi ada satu bagian dari masa lalu yang tetap susah dilupain: masa ketika kita masih berjuang bareng anak band lain, masih percaya kalau mimpi bisa dibangun dari ruang latihan sempit dan panggung kecil yang sederhana. Masa ketika kita belum tahu akan jadi siapa, tapi sudah berani tampil seolah-olah dunia memang harus dengar suara kita.
Dan anehnya, justru dari masa yang terlihat berantakan itulah lahir rasa rindu yang paling dalam.
Karena yang kita rindukan sebenarnya bukan sekadar band-nya, tapi kebebasan, kegilaan, kebersamaan, dan semangat 45 yang dulu bikin semuanya terasa mungkin.
Masa-masa itu mungkin sudah lewat, tapi di hati dan di sirkuit ingatan, rasanya masih terus hidup.
