Kita Pernah Punya Band, Punya Mimpi, dan Punya Cerita yang Nggak Semua Orang Paham
Ada masa di hidup kita yang rasanya nggak akan pernah bisa diulang, masa ketika kita pernah punya band, punya mimpi, dan punya cerita yang nggak semua orang paham.
Buat orang lain, mungkin itu cuma sekumpulan anak yang nongkrong sambil bawa alat musik, ribut soal lagu, debat soal tempo, dan pulang malam dengan badan capek.
Tapi buat kita, itu bukan sekadar kegiatan iseng. Itu rumah. Itu tempat kita merasa hidup.
Di sanalah kita belajar kalau mimpi itu nggak selalu lahir dari tempat yang nyaman, kadang justru muncul dari ruangan sempit, studio pengap, kabel semrawut, amplifier yang bunyinya suka berisik, dan obrolan larut malam tentang lagu mana yang paling cocok buat dibawakan di panggung besok.
Kita mungkin nggak selalu punya segalanya, tapi kita punya semangat yang sama. Kita punya rasa lapar buat tampil, rasa penasaran buat berkembang, dan rasa percaya bahwa suatu hari nama band kita bakal dipanggil orang dari atas panggung, meskipun waktu itu semuanya masih terasa jauh banget.
Lalu, di balik semua tawa dan kegilaan itu, ada juga cerita-cerita yang cuma bisa dipahami sama orang yang pernah ada di dalamnya.
Cerita tentang vokalis yang suaranya habis di latihan tapi tetap maksa nyanyi. Cerita tentang drummer yang tangannya pegal tapi tetap ngotot bilang, “satu take lagi aja.” Cerita tentang gitaris yang berjam-jam nyari tone, padahal yang paling didenger orang cuma beberapa detik di lagu pembuka. Cerita tentang bassis yang sering dianggap kalem, padahal dia yang paling sering jadi penengah pas semua orang mulai panas. Cerita tentang perdebatan kecil yang ujung-ujungnya cuma soal rasa cinta kita ke musik.
Karena band itu memang begitu, nggak cuma soal bunyi yang keluar dari alat musik, tapi juga soal karakter, ego, kompromi, dan cara kita bertahan bareng-bareng.
Kita pernah capek bareng, pernah kesel bareng, pernah ketawa sampe sakit perut bareng, dan pernah ngerasa dunia ini cuma milik kita sendiri pas riff, beat, dan vokal akhirnya ketemu di satu titik yang pas.
Momen-momen kayak gitu nggak bisa dijelasin ke semua orang. Orang luar mungkin cuma lihat hasilnya, tapi kita tahu betapa ribet, lucu, dan berantakannya proses di belakangnya.
Yang paling berat justru saat kita sadar kalau hidup mulai narik kita ke arah yang beda. Ada yang mulai sibuk, ada yang kuliah, ada yang pindah kota, ada yang fokus sama kerjaan, dan pelan-pelan latihan jadi makin jarang, grup chat makin sepi, jadwal manggung makin susah dicocokin.
Awalnya kita kira semua masih aman, masih bisa lanjut, masih bisa diatur. Tapi waktu berjalan dengan cara yang diam-diam, lalu tiba-tiba kita menoleh ke belakang dan sadar kalau satu masa yang dulu terasa begitu hidup ternyata sudah bergeser jadi kenangan.
Bukan berarti semua selesai dengan buruk. Kadang justru yang bikin sedih adalah karena semuanya pernah begitu indah.
Kita pernah punya mimpi besar, pernah membayangkan tur kecil-kecilan, pernah ngarep punya album sendiri, pernah percaya kalau panggung berikutnya adalah pintu buat sesuatu yang lebih besar.
Walaupun akhirnya jalan hidup membawa kita ke tempat yang berbeda, rasa itu tetap ada. Rasa waktu pertama kali naik panggung. Rasa deg-degan sebelum intro dimulai. Rasa bangga saat satu lagu selesai tanpa kacau. Rasa puas saat ada orang yang nyanyi bareng lagu kita, meskipun cuma beberapa orang.
Dan semua itu, anehnya, tetap hidup di kepala dan hati kita sampai sekarang.
Jadi, kalau hari ini kita lihat foto lama, poster gig yang udah pudar, pick gitar yang udah aus, stik drum yang ujungnya retak, atau video performa yang gambarnya goyang dan suaranya agak jelek, jangan langsung bilang itu cuma nostalgia.
Buat kita, itu bukti bahwa pernah ada masa ketika kita benar-benar berani bermimpi sambil berkeringat, berisik, dan jatuh bangun bareng teman-teman satu kapal.
Kita pernah punya band, punya mimpi, dan punya cerita yang nggak semua orang paham, tapi justru karena itu ceritanya jadi berharga.
Nggak semua kisah harus berakhir jadi terkenal dulu baru dianggap penting. Ada cerita yang nilainya justru ada di perjalanan, di kebersamaan, di kekacauan yang penuh tawa, dan di perasaan bahwa kita pernah hidup dengan cara yang benar-benar kita pilih sendiri.
Dan buat anak band, itu bukan hal kecil. Itu adalah hidup yang pernah kita mainkan dengan sepenuh hati.
Band mungkin sudah selesai, tapi kenangannya masih terus nyangkut di sirkuit ingatan kita semua, anak band.
