Kangen Jadi Anak Band yang Pulang Malam Bawa Alat Musik dan Harapan

Kadang, yang paling bikin kangen itu bukan cuma panggungnya, bukan juga sorak penontonnya, tapi momen sederhana pas pulang malam bawa alat musik, badan capek, telinga masih berdenging, tapi hati rasanya penuh banget. 

Anak band pasti paham vibe ini. Pulang lewat jalan sepi, motor atau mobil jalan pelan, case gitar di belakang, stik drum, kabel, pedal, atau keyboard yang rasanya kayak ikut jadi saksi hidup. 

Di jam-jam kayak gitu, semua lelah tiba-tiba terasa layak. Entah habis latihan, habis manggung kecil, habis ngamen, atau habis tampil di acara yang penontonnya cuma segelintir tapi rasanya tetep berharga. Kayak hidup lagi nunjukin, “nih, capekmu tadi nggak sia-sia.”

Rasa kangen jadi anak band itu memang aneh, karena yang diingat bukan cuma serunya, tapi juga perjuangannya. 

Dulu mungkin sering ngeluh soal angkut alat, soal badan pegal, soal telat makan, soal duit yang mepet, soal perjalanan pulang yang jauh banget. Tapi justru dari situ semua cerita paling hidup lahir. 

Ada obrolan receh di parkiran, ada tawa habis salah main lagu, ada momen diam-diam saling ngeliatin di tengah latihan karena sama-sama tahu, band ini belum besar, belum punya nama, belum punya panggung megah, tapi punya mimpi yang lumayan gede buat ditampung di hati masing-masing. 

Dan anehnya, walau masa itu ribet, hati tetap pengen balik ke sana. Soalnya di situ ada rasa muda yang jujur, ada semangat yang masih mentah tapi kuat, ada persaudaraan yang terbentuk bukan karena pencitraan, melainkan karena sering sama-sama berantakan bareng.

Anak band tahu banget kalau pulang malam bawa alat musik bukan sekadar pulang dari kerjaan atau hobi. Itu semacam pulang setelah berjuang bawa bagian dari diri sendiri. 

Gitar bukan cuma gitar, drum bukan cuma drum, mikrofon bukan cuma alat buat nyanyi, tapi semacam bukti kalau kita pernah berani mimpi di tengah hidup yang sering bikin orang jadi realistis kebangetan. 

Buku Ebook Anak Band HOLIDINCOM

Harapan ikut dibawa di dalam tas, di dalam case, di dalam kepala yang masih muter sama nada-nada yang tadi dimainkan. 

Mungkin hasilnya belum meledak. Mungkin penontonnya belum ramai. Mungkin honor masih tipis, bahkan kadang cuma cukup buat makan dan rokok. Tapi justru di situlah romantisnya. 

Ada kepuasan yang nggak bisa dibeli, yaitu rasa bahwa malam itu kita pulang bukan sebagai orang yang menyerah, tapi sebagai orang yang masih terus nyala.

Terus kalau sekarang lagi jauh dari dunia itu, wajar banget kalau hati suka nyelonong balik ke masa-masa dulu. 

Kangen sama aroma ruangan latihan yang campur antara debu, dan aura ampli panas. Kangen sama suara distorsi yang kadang bikin kepala pusing tapi bikin senyum juga. Kangen sama debat kecil soal aransemen lagu yang berakhir damai karena sama-sama capek. Kangen sama perjalanan malam yang isinya ngobrolin mimpi, masa depan, dan band ini bakal jadi apa suatu hari nanti. Kangen jadi anak band itu sebenarnya kangen jadi versi diri sendiri yang paling berani, paling nekat, paling penuh harapan, dan paling nggak takut jatuh. 

Karena dulu kita mungkin belum punya banyak duit, belum punya banyak pengakuan, tapi kita punya sesuatu yang jauh lebih mahal: semangat buat terus main, terus jalan, dan terus percaya kalau suatu saat semua perjuangan itu bakal jadi cerita yang layak dikenang.

Dan mungkin, itu sebabnya judul ini terasa ngena banget. “Kangen jadi anak band yang pulang malam bawa alat musik dan harapan” bukan cuma soal nostalgia. 

Itu soal kerinduan sama fase hidup yang bikin kita merasa benar-benar hidup. Fase saat lelah itu terasa keren, saat perjuangan terasa punya suara, saat pulang malam bukan berarti kalah, tapi berarti habis bertanding dengan hidup dan masih pulang sambil bawa mimpi. 

Buat anak band, itu bukan sekadar kenangan. Itu identitas. Itu luka kecil yang manis. Itu bukti bahwa pernah ada masa ketika kita menukar waktu, tenaga, dan tidur demi satu hal yang kita cintai. Dan jujur aja, susah buat nggak kangen sama masa kayak gitu.