Kangen Hari-Hari Saat Kita Lebih Sibuk Cari Personel Daripada Cari Uang
Dulu, urusan paling penting bukan soal saldo rekening lagi seret atau belum, bukan juga soal tanggal tua yang mulai ngintip dari pojok kalender, tapi soal siapa yang bisa diajak ngeband, siapa yang serius, siapa yang gak cuma semangat di chat doang, dan siapa yang benar-benar mau datang latihan walau hujan, macet, dan duit bensin sama-sama tipis.
Rasanya lucu kalau diingat sekarang. Kita bisa begadang cuma buat mikirin formasi band, debat soal siapa yang cocok jadi bassist, siapa yang suaranya paling pas buat vokal, siapa yang bisa pegang beat stabil tanpa bikin lagu jadi berantakan, sampai akhirnya semua selesai cuma demi satu hal sederhana: band ini harus jalan.
Dan anehnya, di tengah hidup yang serba pas-pasan itu, kita justru ngerasa paling hidup. Karena buat anak band, masa-masa itu bukan sekadar cari teman main musik, tapi cari orang yang bisa diajak berbagi mimpi, ego, dan rasa capek yang sama-sama berisik di kepala.
Kalau dipikir-pikir, cari personel itu kayak cari keluarga versi random. Gak selalu mudah, gak selalu mulus, dan sering banget ujungnya malah bikin kesel sendiri.
Ada yang jago main tapi ngilangnya lebih sering daripada munculnya. Ada yang semangat di awal, tapi pas diajak latihan mendadak jadi makhluk paling susah dijangkau di muka bumi. Ada yang bilang mau serius, tapi begitu dihadapkan sama jadwal latihan langsung banyak alasan.
Tapi justru dari situ serunya. Kita jadi belajar ngenal karakter orang satu-satu, belajar sabar, belajar nahan emosi, belajar kalau chemistry itu gak bisa dipaksa, dan belajar kalau band yang kelihatannya kecil sebenarnya butuh banyak kesetiaan biar bisa berdiri.
Dulu kita mungkin sering ngeluh, “kenapa sih susah banget cari formasi yang cocok?” Tapi sekarang, setelah waktu jalan jauh, kita malah sadar bahwa proses itulah yang bikin kenangan terasa mahal.
Bukan cuma lagu yang dihasilkan, tapi juga drama kecil, tawa receh, obrolan tengah malam, rapat di warung, dan momen pas semua orang akhirnya sepakat meski awalnya beda pendapat. Hal-hal kayak gitu yang bikin masa band dulu gak gampang dilupain.
Dan jujur aja, ada rasa aneh yang susah dijelasin setiap kali kita inget hari-hari itu. Hari-hari saat kita lebih mikirin siapa yang belum bales chat daripada mikirin target penjualan. Hari-hari saat isi dompet emang gak terlalu tebal, tapi kepala penuh rencana, penuh lagu, penuh harapan.
Kita mungkin belum punya panggung gede, belum punya fans yang rame, belum punya alat yang wah, bahkan kadang buat patungan bensin aja harus mikir dua kali.
Tapi waktu itu, semangatnya gila. Kita bisa ngerasa kaya cuma karena berhasil bikin satu lagu jadi utuh. Bisa senyum lebar cuma karena ada orang baru yang mau gabung dan bawa energi baru. Bisa bangga luar biasa cuma karena latihan berjalan lancar tanpa ribut.
Di titik itu, kita sadar bahwa jadi anak band bukan cuma soal main musik, tapi soal bertahan bareng-bareng di tengah segala kekurangan.
Soal saling nungguin, saling dorong, saling ngingetin, dan saling percaya bahwa semua capek itu ada artinya.
Dan entah kenapa, justru saat kita belum punya banyak apa-apa, rasanya semuanya terasa lebih tulus.
Sekarang, ketika hidup mulai bergerak ke arah yang beda, ketika tanggung jawab makin banyak, dan ketika uang mulai ikut menuntut perhatian, kita jadi sering senyum sendiri kalau inget masa-masa itu.
Masa saat prioritas kita masih sesederhana: dapetin personel yang cocok, beresin setlist, cari tempat latihan yang murah, dan ngumpulin tenaga buat terus maju meski keadaan gak ideal.
Masa saat kita lebih sibuk nyari orang buat diajak bikin sesuatu yang keren, daripada sibuk mikirin hasil yang belum tentu datang.
Dan mungkin memang di situlah letak romantisnya jadi anak band: kita pernah hidup di fase yang penuh kekacauan, tapi tetap terasa indah karena dijalani bareng-bareng.
Kita pernah ada di titik ketika mimpi lebih besar daripada isi dompet, dan semangat lebih kuat daripada rasa capek.
Jadi masa yang paling berkesan itu mungkin bukan saat kita sudah berhasil punya semuanya, tapi justru saat kita masih sama-sama berjuang, masih sama-sama bingung, masih sama-sama keras kepala, dan masih sama-sama percaya bahwa band ini layak diperjuangkan.
Serius, yang bikin kita kangen bukan cuma musiknya, tapi orang-orangnya, prosesnya, dan versi diri kita yang dulu begitu nekat mengejar mimpi tanpa banyak hitung-hitungan.
