Dulu Kita Mikir Band Ini Bakal Besar Sekarang Kita Cuma Senyum Kalau Ingat
Dulu kita pernah punya keyakinan yang rasanya nggak main-main. Waktu band baru jalan, kita mikirnya sederhana tapi penuh semangat: “Kayaknya band kita bakal besar deh.”
Di kepala kita, semuanya kelihatan mungkin. Latihan yang capek, panggung kecil yang panas, penonton yang masih segelintir—semua itu justru terasa kayak bagian dari proses menuju sesuatu yang lebih besar.
Kita percaya kalau selama masih bareng, selama masih ada mimpi yang sama, band pasti bisa tembus lebih jauh.
Dulu kita ngomong soal masa depan dengan mata yang berbinar, seolah dunia memang lagi nunggu buat ngasih tempat ke band kita.
Waktu itu, setiap lagu yang dibikin terasa punya harapan sendiri. Setiap riff, setiap lirik, setiap gebukan drum, bahkan setiap kesalahan kecil di panggung, semuanya kita anggap sebagai cerita yang lagi dibangun pelan-pelan.
Kita pernah terlalu serius berharap, terlalu yakin kalau kerja keras dan kebersamaan bakal otomatis bikin semuanya naik kelas.
Kita bayangin bakal ada momen besar, bakal ada penonton yang hafal lagu kita, bakal ada nama band kita di banyak tempat, dan bakal ada hari di mana semua pengorbanan itu kelihatan hasilnya.
Nggak salah juga sebenarnya berharap tinggi, karena justru dari situ semangat kita dulu hidup.
Anak band mana yang nggak pernah punya mimpi segede langit waktu lagi ngebayangin masa depan bandnya sendiri?
Tapi hidup kadang emang suka punya versi cerita yang beda. Yang dulu kita kira bakal jadi jalan besar, ternyata malah berbelok pelan-pelan, lalu makin jauh dari bayangan awal.
Bukan karena kita kurang usaha, bukan juga karena mimpinya terlalu muluk, tapi karena ada banyak hal yang nggak bisa kita atur.
Jadwal yang makin susah, prioritas yang berubah, ego yang kadang muncul diam-diam, pertemanan yang mulai renggang, atau keadaan yang bikin semuanya pelan-pelan kehilangan bentuk.
Band yang dulu kita jaga habis-habisan, akhirnya cuma jadi bagian dari kenangan yang kalau diingat sekarang rasanya campur aduk.
Ada sedihnya, ada lucunya, ada bangganya juga, karena setidaknya kita pernah hidup di masa itu dengan sepenuh hati.
Sekarang, kalau kita ngeliat ke belakang, yang muncul bukan cuma rasa haru atau kecewa. Justru seringnya kita cuma senyum kecil sambil bilang dalam hati, “Wah, dulu kita segitu yakinnya.”
Senyum yang nggak sinis, bukan juga menertawakan masa lalu, tapi senyum yang lahir karena kita paham.
Waktu itu kita benar-benar percaya. Kita benar-benar ngasih hati ke band itu. Kita pernah jadi anak-anak yang ngerasa dunia bisa ditaklukkan cuma modal mimpi, alat musik, dan persahabatan yang kelihatan nggak bakal kalah sama apa pun.
Dan walaupun hasil akhirnya nggak persis seperti yang dulu kita bayangin, bukan berarti semuanya sia-sia. Soalnya ada masa di mana kita pernah hidup penuh api, dan itu nggak semua orang punya.
Mungkin itulah yang bikin kenangan soal band lama selalu punya tempat sendiri di hati anak band.
Bukan semata-mata karena band itu sukses atau nggak, besar atau nggak, dikenal orang banyak atau enggak.
Tapi karena di dalamnya ada versi diri kita yang paling jujur. Versi yang masih nekat, masih percaya, masih pengin buktiin sesuatu ke dunia.
Dan tiap kali ingat band itu, kita bukan cuma ingat lagu-lagunya, tapi juga suasana latihannya, ocehan kecil di perjalanan, tawa receh di belakang panggung, dan obrolan-obrolan yang dulu terasa biasa tapi sekarang malah jadi mahal banget nilainya.
Dulu kita mikir band bakal besar. Sekarang, kita cuma senyum kalau ingat. Tapi justru dari senyum itu, kita sadar: ternyata masa itu memang pernah begitu berarti.
