Cerita Anak Band Lama yang Masih Suka Rindu Aroma Studio Rental

Ada satu rasa yang cuma dimengerti sama anak band lama: rindu yang bentuknya bukan ke orang, bukan ke tempat wisata, tapi ke aroma studio rental. 

Kedengarannya aneh, tapi buat orang luar mungkin cuma bau ruangan sempit, AC yang kadang dinginnya nanggung, karpet agak lembap, kabel kusut di mana-mana, dan sisa asap rokok yang nempel di dinding. 

Buat kita, itu bukan sekadar aroma. Itu aroma masa kebebasan, aroma susah payah, aroma mimpi yang masih mentah tapi semangatnya gila-gilaan. 

Begitu pintu studio kebuka, ada rasa yang langsung nyamber: rasa pengin main, pengin berisik, pengin ngebutuhin emosi lewat lagu, pengin ngebuktiin ke dunia kalau dari ruangan kecil itu bisa lahir sesuatu yang besar. 

Dulu, masuk studio rental itu rasanya kayak masuk markas rahasia. Semua orang bawa alat masing-masing, semua punya gaya sendiri, tapi begitu hitungan “satu, dua, tiga” keluar, semuanya nyatu jadi satu badan. Nggak peduli jari pegel, tangan basah keringet, atau vokal lagi serak, yang penting lagu jalan. 

Dan di situlah sering lahir momen-momen yang nggak pernah bisa diulang persis sama, momen yang sekarang cuma bisa diingat sambil senyum sendiri, kadang malah ketawa kecil karena dulu kita sekacau itu, tapi justru di kekacauan itulah hidup terasa paling jujur.

Anak band lama pasti paham betapa studio rental itu bukan cuma tempat latihan, tapi rumah kedua yang bentuknya lebih berantakan daripada kamar sendiri. 

Di sana ada tumpukan stand mic yang sudah miring dari zaman entah kapan, amplifier yang suka ngadat pas lagi dibutuhin, drum yang bunyinya kadang lebih galak dari drum di panggung kecil, dan speaker yang suka bikin telinga cenat-cenut kalau volumenya kelewatan. 

Tapi justru dari situ semua kenangan numpuk. Ada lagu yang diulang puluhan kali sampai semua orang hafal di luar kepala. Ada debat kecil soal tempo yang terlalu cepat, fill drum yang kepanjangan, gitar yang kebanyakan efek, atau vokal yang kurang naik di bagian reff. Ada juga momen diam-diam yang justru paling berharga, saat semua anggota band duduk capek di lantai setelah latihan, minum air mineral dingin yang rasanya kayak hadiah, lalu ngobrol ngalor-ngidul dari musik sampai masalah hidup yang waktu itu terasa berat banget. 

Studio rental menyimpan banyak versi diri kita: versi yang belum percaya diri, versi yang sok keras kepala, versi yang lagi patah hati, versi yang lagi pengin kabur dari dunia, sampai versi yang akhirnya ketemu semangat lagi gara-gara satu lagu yang tiba-tiba jadi pas. 

Dan anehnya, semua itu terasa mahal sekarang, karena waktu sudah jalan, orang-orang sudah sibuk dengan hidup masing-masing, sementara aroma studio itu masih nyangkut di kepala seperti kenangan yang belum mau pergi.

Kalau dipikir-pikir, rindu ke studio rental itu sebenarnya rindu pada masa ketika musik masih jadi alasan paling murni buat berkumpul. 

Belum mikir branding, belum mikir algoritma, belum mikir engagement, belum mikir konten harus viral. 

Buku Ebook Anak Band HOLIDINCOM

Yang dipikir cuma gimana lagu ini enak dibawain, gimana panggung nanti nggak malu-maluin, gimana kalau ada penonton meski cuma tiga orang, mereka tetap bisa pulang dengan ngebawa rasa yang jujur. 

Dulu, latihan band bukan perkara efisien atau produktif. Kadang satu lagu habis waktu dua jam karena semua anggota punya ego masing-masing. 

Tapi justru dari situ kita belajar banyak hal yang nggak diajarin buku mana pun: cara ngalah, cara dengerin orang lain, cara tetap jalan walau mood berantakan, cara nahan emosi biar band nggak pecah, dan cara tetap ketawa meski progress terasa lambat. 

Studio rental itu semacam laboratorium perasaan. Di sana kita pernah ngerasa jadi paling keren, lalu besoknya sadar masih banyak yang harus dipelajari. Di sana kita pernah ngerasa band kita bakal meledak, lalu sadar ternyata yang meledak duluan malah semangat latihan karena alat bermasalah. 

Tapi dari semua kegagalan kecil itu, ada satu hal yang nggak pernah hilang: rasa memiliki. Rasa bahwa selama masih ada ruangan untuk mencolok kabel, selama masih ada lagu yang belum selesai, selama masih ada satu orang yang mau nyanyi dan tiga orang lain yang mau ngikutin, band itu masih hidup.

Sekarang, rasa rindu itu datang diam-diam, seringnya pas dengar lagu lama atau pas lewat jalan yang dulu sering dilewati buat nyari studio musik. 

Tiba-tiba keinget suara pedal kick, keinget tangan yang lengket karena keringet, keinget amp yang suaranya cempreng tapi tetap dibela-belain, keinget tawa teman-teman band yang dulu rasanya bakal terus ada selamanya. 

Padahal hidup memang nggak sesimpel itu. Ada yang jadi sibuk kerja, ada yang pindah kota, ada yang menghilang, ada yang tetap main musik tapi jalannya beda, ada yang sudah jarang pegang alat, tapi di dalam hati masih ada sisa getaran yang sama. 

Dan mungkin memang itu inti dari jadi anak band: kita nggak cuma merindukan musiknya, tapi juga versi diri kita sendiri yang pernah begitu nekat, begitu polos, dan begitu penuh harapan. 

Aroma studio rental jadi semacam pintu waktu kecil yang kalau kebuka, semua kenangan langsung keluar berhamburan. 

Bukan buat bikin kita sedih doang, tapi buat ngingetin kalau pernah ada masa ketika kita hidup dengan sangat berani, walaupun alat seadanya, tempat latihan sempit, dan masa depan masih kabur. 

Buat anak band, rindu aroma studio rental itu nostalgia yang punya suara, punya debu, punya keringat, dan punya jiwa. 

Dan jujur aja, kadang yang paling kita rindukan bukan studio-nya, tapi rasa hidup yang dulu terasa paling keras bunyinya di dalam ruangan itu.