Anak Band Lama Pasti Paham Rasanya Kangen Sama Band yang Nggak Jadi Terkenal

Ada satu rasa yang cuma dimengerti sama orang-orang yang pernah punya band. Bukan soal pernah manggung di depan ribuan penonton. 

Bukan juga soal pernah viral atau punya lagu yang diputar di radio. Tapi soal rasa kangen terhadap sebuah band yang sebenarnya nggak pernah jadi terkenal. 

Ironisnya, justru band seperti itulah yang paling susah dilupakan. Semakin lama waktu berjalan, semakin sering nama band itu muncul lagi di kepala. 

Kadang cuma gara-gara dengar lagu lama, lihat gitar berdebu di sudut kamar, atau tanpa sengaja menemukan foto-foto waktu masih gondrong, pakai kaus band hitam yang udah pudar warnanya.

Anehnya, dulu waktu masih aktif latihan, kita selalu yakin kalau suatu hari nanti band ini bakal besar. Setiap latihan terasa seperti langkah menuju mimpi. 

Kita ngomongin album pertama, tur keliling Indonesia, sampai bercanda soal nanti kalau udah terkenal jangan lupa sama teman-teman lama. 

Semua terdengar sangat mungkin. Bahkan kita rela pulang malam, naik motor kehujanan sambil bawa gitar di punggung, cuma demi latihan dua atau tiga jam di studio musik. 

Waktu itu capek memang, tapi semangatnya luar biasa. Nggak ada yang mikir soal uang. Yang penting bisa main musik bareng.

Setiap personel punya perannya masing-masing. Ada yang paling disiplin datang duluan. Ada yang selalu telat tapi paling jago improvisasi. Ada yang hobinya ngelucu sampai latihan lebih banyak ketawanya daripada main lagunya. Ada juga yang selalu ngomel karena drummer kebanyakan fill, gitaris terlalu keras, atau vokalis lupa lirik. 

Lucu memang, tapi semua kekacauan itu justru yang sekarang paling dirindukan. Dulu bikin emosi. Sekarang malah bikin senyum sendiri kalau teringat semua drama itu.

Band yang nggak jadi terkenal biasanya punya sejarah yang lebih panjang daripada pencapaiannya. 

Pernah bikin demo rekaman yang suaranya pecah. Pernah ikut festival dan gugur di babak awal. Pernah tampil di acara pensi dengan sound system yang bikin gitar nggak kedengeran. Pernah manggung dibayar nasi kotak. Pernah juga tampil tanpa dibayar sama sekali karena yang penting bisa naik panggung. 

Tapi entah kenapa, semua momen itu terasa jauh lebih berharga daripada sekadar angka viewers atau jumlah followers yang sekarang sering dijadikan ukuran kesuksesan.

Masih ingat rasanya bikin lagu pertama. Duduk berjam-jam di mabes band, garasi, atau studio latihan, muter progresi chord yang sama berkali-kali sambil berharap tiba-tiba muncul melodi yang keren. 

Liriknya ditulis di buku tulis, kadang di sobekan kertas. Begitu lagunya selesai, rasanya bangga banget. 

Walaupun setelah didengar lagi sekarang mungkin kita bakal ketawa sendiri karena liriknya terlalu puitis atau terlalu galau. Tapi waktu itu, lagu itu terasa seperti karya terbaik yang pernah kita buat.

Ada juga masa-masa ketika semua personel benar-benar percaya kalau band ini tinggal menunggu waktu buat meledak. 

Mulai bikin logo band. Cetak stiker. Bikin kaus. Foto profil serius dengan pose tangan disilang. Upload lagu ke platform yang saat itu lagi ramai. 

Setiap ada notifikasi komentar, langsung dibaca rame-rame. Satu orang bilang, "Band kalian keren." Kalimat sesederhana itu aja bisa bikin semangat latihan seminggu penuh. 

Buku Ebook Anak Band HOLIDINCOM

Lalu pelan-pelan hidup mulai berubah. Ada yang kuliah di kota lain. Ada yang kerja entah di mana. Ada yang moksa. Ada yang pindah ke suatu tempat di wilayah Kinki. Ada juga yang sibuk mengejar bayangan. 

Jadwal latihan yang dulu seminggu dua kali berubah jadi sebulan sekali. Lama-lama tiga bulan sekali. Setelah itu tinggal janji-janji, "Nanti ya kita latihan lagi kalau semua udah senggang." Sampai akhirnya studio latihan lebih sering jadi kenangan daripada tujuan.

Nggak ada pengumuman resmi kalau band itu bubar. Nggak ada konferensi pers. Nggak ada postingan perpisahan yang dramatis. Band itu cuma berhenti. 

Grup chat mulai sepi. Alat musik tetap ada, tapi nggak lagi sering dipakai. Lagu-lagu yang dulu sering dimainkan perlahan tergantikan oleh kesibukan hidup masing-masing. Tahu-tahu sudah bertahun-tahun berlalu.

Yang paling bikin hati damai adalah ketika suatu hari semua personel ketemu lagi. Entah di acara reuni, atau kebetulan papasan di jalan. Obrolan yang keluar hampir selalu sama.

"Masih nyimpen gitar?"

"Masih hafal lagu kita dulu?"

"Eh, studio latihan itu sekarang jadi apa ya?"

Lalu semua tertawa. Bukan karena lucu, tapi karena sadar kalau ternyata ada satu bagian hidup yang nggak pernah benar-benar hilang. 

Band itu mungkin gagal jadi terkenal, tapi berhasil menciptakan kenangan yang usianya jauh lebih panjang daripada popularitas.

Kadang muncul rasa penasaran. Kalau dulu kita nggak bubar, kira-kira sekarang jadi apa ya? Mungkin sudah punya album. Mungkin sudah keliling kota. Mungkin juga tetap biasa-biasa aja. 

Tapi pertanyaan itu nggak pernah benar-benar punya jawaban. Yang ada cuma imajinasi dan nostalgia yang sesekali datang tanpa permisi.

Sekarang, setiap dengar lagu-lagu yang dulu sering dipakai pemanasan latihan, rasanya seperti dibawa naik mesin waktu. 

Tiba-tiba ingat aroma studio yang pengap, kabel berserakan di lantai, suara amplifier yang berdengung, stik drum yang patah, botol air mineral yang bergantian diminum, sampai teriakan, "Ulang dari intro!" 

Semua detail kecil itu ternyata masih tersimpan rapi di kepala, meskipun sudah bertahun-tahun nggak disentuh.

Mungkin memang nggak semua band ditakdirkan masuk televisi, tampil di festival besar, atau punya jutaan pendengar. Tapi bukan berarti perjalanan gagal. 

Kadang tujuan sebuah band bukan untuk menjadi legenda di mata dunia, melainkan menjadi legenda kecil di hati para personelnya sendiri. 

Meskipun demikian adanya, percayalah, bahwasanya yang paling berharga bukan cuma soal terkenal atau tidak, melainkan tentang persahabatan, perjuangan, tawa, mimpi, dan masa ketidakpastian yang pernah dijalani bersama.

Kalau kamu pernah jadi anak band, lalu sekarang hidupmu sudah berubah jauh, ketahuilah, kalau rasa kangen itu akan selalu datang sesekali tanpa permisi. 

Dan ketika itu terjadi, kamu akan sadar bahwa yang sebenarnya kamu rindukan bukan cuma musiknya, tapi kamu sedang merindukan versi dirimu sendiri yang dulu—versi yang berani bermimpi besar, berani gagal berkali-kali, rela menghabiskan waktu demi satu lagu yang bahkan belum tentu didengar banyak orang. 

Band itu mungkin nggak pernah jadi terkenal. Tapi kenangannya, sampai saat ini akan terus manggung di dalam kepala kita.