Rindu Studio Rental Tempat Kita Pernah Merasa Jadi Musisi Besar

Buat banyak anak band, studio rental adalah tempat yang jauh lebih penting daripada apapun. Di sanalah mimpi-mimpi besar dirakit, meskipun kadang uang patungan untuk sewa studio saja masih kurang dan harus ditambah recehan dari sisa uang jajan. 

Begitu pintu studio ditutup dan suara dunia luar perlahan menghilang, rasanya seperti masuk ke dunia lain. Dunia di mana kita bukan lagi pelajar biasa, mahasiswa yang sering telat masuk kelas, atau pekerja yang sedang capek menghadapi rutinitas. 

Di dalam ruangan itu, kita adalah musisi. Bahkan dalam imajinasi yang paling luar biasa, kita merasa seperti bintang besar yang sedang mempersiapkan konser megah di depan ribuan penonton.

Masih ingat bagaimana rasanya datang lebih awal hanya karena tidak sabar ingin bermain? Kadang jadwal latihan baru dimulai satu jam lagi, tapi kita sudah nongkrong di depan studio. 

Duduk di parkiran, ngobrol ngaler-ngidul, bercanda soal lagu baru, atau sekadar mendengarkan band lain yang sedang latihan saat itu. 

Ketika penjaga studio akhirnya membuka pintu dan mempersilakan masuk, ada perasaan senang yang sulit dijelaskan. 

Rasanya seperti mendapat kesempatan untuk hidup di dunia yang selama ini hanya kita bayangkan dari video klip, konser, dan majalah musik.

Lalu latihan pun dimulai. Drummer biasanya menjadi orang pertama yang mencoba alat, memukul snare beberapa kali sambil memastikan semuanya terasa pas. 

Gitaris mulai memutar knob ampli, mencari suara yang menurutnya paling garang. Bassis sibuk mengecek kabel yang kadang suka bermasalah. Vokalis berdiri di depan mikrofon dengan ekspresi serius, meskipun beberapa menit kemudian semua orang malah tertawa karena ada yang salah masuk nada atau lupa bagian lagu. 

Anehnya, kekacauan-kekacauan kecil seperti itu justru menjadi bagian paling berharga dari kenangan. Tidak ada yang sempurna, tapi semuanya terasa menyenangkan.

Yang paling lucu adalah bagaimana studio rental sering membuat kita merasa jauh lebih hebat daripada kenyataannya. 

Begitu suara gitar keluar dari amplifier besar dan gema drum memenuhi ruangan, rasa percaya diri langsung naik berkali-kali lipat. 

Lagu yang dimainkan mungkin masih berantakan, tempo sering lari ke mana-mana, dan harmoninya belum tentu rapi, tetapi di kepala kita sudah seperti sedang tampil di festival musik terbesar di negeri ini. 

Kita membayangkan lampu panggung yang megah, teriakan penonton, dan nama band yang terpampang besar di spanduk acara. 

Padahal kenyataannya, penonton kita saat itu cuma teman satu band dan penjaga studio yang sesekali mengintip dari luar.

Studio rental juga menjadi saksi begitu banyak cerita yang tidak pernah diketahui orang lain. Di sana ada perdebatan panjang soal aransemen lagu. 

Ada anggota band yang ngotot mempertahankan ide tertentu, sementara yang lain punya pendapat berbeda. 

Ada juga momen ketika seseorang datang membawa lagu ciptaannya sendiri dengan penuh semangat, lalu memainkan chord demi chord sambil berharap teman-temannya menyukai hasil karyanya. 

Kadang lagu itu langsung diterima, kadang malah harus direvisi berkali-kali. Namun justru proses itulah yang membuat semuanya terasa hidup. 

Buku Ebook Anak Band HOLIDINCOM

Tidak sedikit persahabatan yang tumbuh semakin kuat karena sering bertemu di studio rental. 

Berjam-jam berada dalam satu ruangan membuat kita mengenal satu sama lain lebih dalam. 

Kita tahu siapa yang paling sering datang terlambat, siapa yang selalu lupa membawa pick gitar, siapa yang paling besar ngasih uang patungan, dan siapa yang hampir selalu menjadi sumber candaan. 

Hubungan yang awalnya hanya karena sama-sama suka musik perlahan berubah menjadi persahabatan yang jauh lebih luas daripada sekadar urusan band.

Ada juga momen-momen hening yang sekarang terasa sangat berharga. Saat latihan selesai, alat musik mulai dibereskan, dan waktu sewa tinggal beberapa menit lagi. 

Semua duduk kelelahan sambil menikmati suasana yang perlahan tenang. Tidak ada yang benar-benar ingin pulang, karena di dalam hati masing-masing masih ingin menikmati sedikit waktu lagi bersama teman-teman dan mimpi yang sedang diperjuangkan. 

Saat itu mungkin kita tidak menyadarinya, tetapi ternyata momen-momen sederhana seperti itulah yang nantinya paling dirindukan.

Seiring berjalannya waktu, banyak hal berubah. Beberapa band bubar karena kesibukan masing-masing. 

Ada yang kerja, ada yang pindah kota, ada yang fokus pada cicilan, dan ada juga yang masih terus mengejar jalannya sendiri. 

Studio rental yang dulu hampir setiap minggu dikunjungi perlahan hanya menjadi bagian dari kenangan. 

Bahkan mungkin beberapa studio sudah tutup, berganti usaha lain, atau direnovasi hingga tidak lagi terlihat seperti dulu. 

Namun anehnya, setiap kali melewati tempat yang pernah menjadi studio langganan, ingatan itu langsung muncul kembali. Seolah-olah suara drum, gitar, dan tawa teman-teman masih tertinggal di dalam temboknya.

Rindu pada studio rental sebenarnya bukan hanya rindu pada sebuah tempat. Kita merindukan versi diri kita yang dulu. 

Versi diri yang berani bermimpi besar tanpa terlalu memikirkan drama kehidupan. Versi diri yang percaya bahwa suatu hari nanti lagu-lagu ciptaan sendiri bisa didengar banyak orang. 

Versi diri yang rela menabung demi beberapa jam latihan bersama teman-teman. Studio rental hanyalah panggung kecil, tetapi di sanalah banyak mimpi besar pernah dilahirkan.

Dan mungkin itulah alasan mengapa kenangan tentang studio rental selalu terasa mengharukan. 

Bukan karena alat musiknya, bukan karena ruangannya, dan bukan pula karena kualitas sound system-nya. 

Yang dirindukan adalah perasaan saat berada di sana. Perasaan ketika hidup terasa lebih sederhana, lebih seru, dan penuh harapan. 

Perasaan ketika kita bisa menutup mata sejenak, memainkan lagu favorit, lalu membayangkan bahwa dunia suatu hari nanti akan mengenal nama band kita. 

Meski mimpi itu mungkin tidak semuanya terwujud, kenangannya tetap hidup. Dan sampai kapan pun, studio rental akan selalu menjadi tempat di mana kita pernah merasa menjadi musisi besar.