Nostalgia Anak Band Waktu Mimpi Masih Lebih Besar dari Uang Jajan
Dulu, jadi anak band itu rasanya kayak punya dunia sendiri. Uang jajan memang pas-pasan, kadang habis duluan sebelum minggu berakhir, tapi anehnya mimpi tetap penuh dan nggak ada habisnya.
Waktu itu kita nggak terlalu mikirin tampil keren di mata orang, nggak terlalu pusing soal hasil akhir, apalagi soal untung-rugi.
Yang penting ada gitar, ada drum, ada lirik yang belum sempurna, dan ada teman-teman yang sama-sama lagi berusaha bikin sesuatu dari nol.
Latihan di ruang sempit, suara cempreng dari speaker murahan, jek yang sering ngadat, dan jari yang sakit karena kebanyakan main gitar itu malah jadi bagian dari kenangan yang sekarang kalau diingat rasanya hangat banget.
Anehnya, justru di masa-masa serba sederhana itu, hidup terasa paling hidup. Kita nggak punya banyak uang, tapi punya banyak alasan buat terus jalan. Kita nggak punya panggung besar, tapi punya semangat yang besar banget. Dan di situlah letak manisnya jadi anak band: semua terasa sederhana, tapi hatinya penuh.
Ada masa ketika satu lagu bisa jadi penyelamat seharian. Lagi capek sekolah, lagi berantem sama teman, lagi jatuh cinta sepihak, atau lagi ngerasa hidup ini nggak adil—semua bisa ditumpahkan ke lagu.
Anak band zaman itu hidup dari perasaan. Sedikit-sedikit dijadiin nada, sedikit-sedikit dijadiin lirik, lalu dibawa latihan dengan penuh percaya diri walau hasilnya masih berantakan.
Kadang lagunya belum rapi, kadang vokalnya masih goyang, kadang temponya suka lari sendiri, tapi justru dari situ semua belajar.
Belajar sabar, belajar dengerin satu sama lain, belajar menahan ego, belajar bahwa karya bagus itu nggak lahir dari buru-buru, tapi dari berkali-kali jatuh dan dibenerin lagi.
Dan kalau dipikir-pikir sekarang, masa itu bukan cuma soal musik. Itu soal proses tumbuh. Soal bagaimana sekelompok anak sekolah yang dompetnya tipis, tapi nyalinya tebal, berusaha bikin suara mereka terdengar ke dunia.
Nggak jarang kita dulu nyisihin uang demi bisa patungan buat ongkos, demi bisa datang ke gig kecil, demi bisa nempel di scene yang sebenarnya belum tentu kenal kita.
Tapi karena mimpi masih lebih besar dari uang jajan, semua itu terasa masuk akal. Bahkan terasa keren.
Yang paling bikin kangen sebenarnya bukan cuma suasana panggung atau penonton yang teriak-teriak, tapi momen-momen kecil sebelum dan sesudah itu.
Nongkrong di warung habis latihan, bahas band idola sampai larut, saling pamer riff yang baru ketemu, atau debat receh soal siapa yang paling enak perform di atas panggung.
Ada tawa yang lepas, ada capek yang jujur, ada kecewa yang nggak sempat diomongin, dan ada rasa saling jaga yang mungkin waktu itu kita sendiri juga belum sadar.
Anak band memang sering kelihatan santai di luar, tapi di dalam kepalanya ribut terus. Pengen dikenal, pengen lagu didenger, pengen tampil lebih baik, pengen punya rekaman sendiri, pengen diundang manggung, pengen buktiin kalau kita juga bisa. Semua pengen itu numpuk jadi bahan bakar.
Dan serunya, kita jalan tanpa terlalu banyak hitungan. Nggak seperti sekarang yang serba diukur angka, dulu kita lebih sering diukur dari seberapa niat kita bertahan. Seberapa sering kita pulang malam, seberapa banyak luka kecil yang kita anggap biasa, seberapa kuat kita tetap datang walau cuma untuk latihan dua jam yang kadang malah berujung bercanda empat jam.
Sekarang, kalau nengok ke belakang, rasanya masa itu seperti foto lama yang warnanya sedikit pudar tapi justru bikin hati gemes sendiri.
Kita mungkin sudah nggak seidealis dulu, mungkin hidup sekarang lebih ribet, tanggung jawab makin banyak, waktu makin sempit, dan mimpi pun kadang harus antre sama kebutuhan.
Tapi kenangan jadi anak band tetap punya tempat yang nggak bisa diganti apa pun. Soalnya di masa itu kita belajar bahwa mimpi nggak harus selalu langsung besar di mata orang lain.
Kadang cukup besar di dalam dada sendiri. Cukup bikin kita bangun pagi dengan rasa ingin, cukup bikin kita nekat tetap bikin lagu meski nggak ada yang minta, cukup bikin kita percaya bahwa suatu saat kerja keras yang kelihatan receh itu bakal punya arti.
Dan ternyata memang begitu. Meski sekarang dunia sudah berubah, meski dulu dan sekarang terasa beda jauh, ada satu hal yang nggak ikut berubah: perasaan hangat saat mengingat masa ketika kita pernah percaya bahwa gitar, suara, dan persahabatan bisa jadi jalan buat menaklukkan hidup. Itu kenangan yang mahal, walau dulu dibangun pakai uang jajan yang hampir selalu kurang.
Kadang rindu itu datang diam-diam. Muncul saat dengar lagu lama, saat lihat foto band lama, saat ketemu teman seperjuangan yang dulu pernah satu mimpi, atau saat tanpa sengaja mencium bau ruangan latihan yang lembap dan berdebu.
Tiba-tiba semuanya balik lagi. Balik ke masa ketika hidup belum terlalu banyak beban, belum terlalu banyak tuntutan, belum terlalu banyak kata “harus.”
Balik ke masa ketika kita masih bisa percaya bahwa satu penampilan kecil bisa terasa seperti konser terbesar di dunia.
Dan mungkin memang begitulah anak band sebenarnya hidup—bukan cuma mengejar tenar, tapi mengejar rasa. Rasa bebas, rasa punya tujuan, rasa diterima, rasa sedang membangun sesuatu yang berarti.
Jadi kalau sekarang hati kadang suka nyengir sendiri saat ingat masa lalu itu, wajar banget. Karena di balik semua kebandelan, kekacauan, dan idealisme yang kadang berlebihan, ada masa ketika kita benar-benar hidup sepenuh-penuhnya. Ada masa ketika mimpi masih lebih besar dari uang jajan, dan justru karena itulah, segalanya terasa mungkin.
