Masa Nge-Band Adalah Bab Hidup yang Berisik Tapi Paling Jujur

Masa nge-band itu memang bukan cuma soal latihan, manggung, atau ngebuat lagu. Lebih dari itu, masa itu sering jadi bab hidup yang paling berisik, paling capek, paling bikin pusing, tapi justru paling jujur. 

Di situ kita belajar kalau mimpi itu nggak selalu datang dengan rapi, nggak selalu enak dijalanin, dan nggak selalu keliatan keren dari luar. 

Kadang yang orang lihat cuma empat atau lima anak nongkrong bawa alat musik, padahal di balik itu ada ribuan rasa yang saling tabrakan. 

Ada semangat yang lagi tinggi-tingginya, ada ego yang kadang susah banget diturunin, ada rasa minder sama band lain, ada rasa pengin diakui, ada juga rasa pengin kabur aja karena capek sama semua drama. Tapi ya justru di situlah hidup terasa nyata. 

Nge-band itu semacam fase di mana kita nggak bisa pura-pura jadi orang lain terlalu lama, karena musik selalu bongkar isi kepala dan isi hati kita tanpa ampun.

Waktu masih nge-band, semua hal terasa lebih intens. Latihan sampai malam, nyari tempat yang cocok, debat soal aransemen, ribut kecil gara-gara telat, sampai masalah sepele kayak pick hilang atau senar putus bisa berubah jadi drama yang rasanya kayak kiamat kecil. 

Tapi, dari semua kekacauan itu, kita malah jadi lebih kenal sama diri sendiri dan sama orang-orang di sekitar kita. 

Kita jadi tahu siapa yang sungguh-sungguh mau bertahan, siapa yang cuma ikut rame pas awalnya doang, siapa yang diam-diam paling kuat nahan beban, dan siapa yang kelihatannya santai padahal paling sering mikirin band sampai susah tidur. 

Nge-band itu ngajarin kalau kerja sama bukan cuma soal bareng-bareng di panggung, tapi juga soal sabar, saling ngalah, saling ngerti, dan kadang saling memaafkan setelah sama-sama keras kepala. 

Nggak semua obrolan berakhir manis, nggak semua ide langsung diterima, tapi justru dari benturan-benturan itulah karakter kita ditempa.

Dan kalau dipikir-pikir, masa nge-band itu juga masa di mana kita paling jujur sama rasa. Lagu yang kita mainkan sering kali bukan sekadar lagu, tapi potongan hidup yang belum sempat kita ucapin ke siapa-siapa. 

Buku Ebook Anak Band HOLIDINCOM

Ada marah yang berubah jadi riff, ada rindu yang berubah jadi lirik, ada kecewa yang disulap jadi teriakan di panggung, ada harapan yang ditaruh diam-diam di balik satu chorus yang diulang berkali-kali. 

Musik jadi tempat pulang, tempat ngeluarin semua yang numpuk di dada, tempat jujur tanpa harus takut dihakimi. 

Karena di kehidupan sehari-hari, kita sering harus pakai topeng. Harus terlihat kuat, harus terlihat santai, harus terlihat baik-baik aja. 

Tapi di dalam band, apalagi saat lagi bener-bener tenggelam di musik, topeng itu pelan-pelan jatuh sendiri. 

Yang tersisa cuma kita, suara kita, dan hal-hal yang benar-benar pengin kita bilang ke dunia. Makanya masa itu terasa berisik, tapi kejujurannya nggak bisa dibantah.

Sekarang, setelah waktu berjalan dan hidup makin penuh urusan, masa nge-band kadang cuma jadi kenangan yang bikin senyum sendiri. Bukan karena masa itu sempurna, justru karena masa itu jauh dari kata sempurna. 

Banyak yang berantakan, banyak yang gagal, banyak yang nggak jadi, banyak yang cuma tinggal cerita. Tapi anehnya, justru yang berantakan itulah yang paling nempel di ingatan. 

Kita ingat suara drum yang terlalu kencang, tawa di sela-sela istirahat, bawa alat musik seadanya, panggung kecil yang lighting-nya nggak niat, penonton yang cuma beberapa orang tapi kita tetap tampil seolah lagi di hadapan ribuan orang. 

Semua itu mungkin kelihatan sederhana, tapi buat yang pernah ada di dalamnya, itu bukan sekadar nostalgia. 

Itu bukti bahwa kita pernah hidup dengan sepenuh hati. Bahwa pernah ada masa di mana kita percaya sama mimpi, walau jalannya semrawut, walau hasilnya nggak pasti, walau dunia belum tentu peduli. 

Dan mungkin memang begitulah masa nge-band: kacau, ramai, melelahkan, tapi paling tulus. Karena di tengah segala kegaduhan itu, kita justru menemukan versi diri kita yang paling murni.