Kangen Masa Nge-Band Dulu Waktu Hidup Masih Isinya Mimpi dan Distorsi

Ada masa di hidup yang kalau diingat-ingat rasanya kayak kaset lama yang diputar lagi di kepala. Suaranya mungkin sudah agak noise, memorinya mungkin sudah nggak terlalu jernih, tapi feel-nya masih utuh banget. 

Masa itu adalah masa nge-band, waktu hidup masih isinya mimpi, distorsi, bau studio rental, double pedal, kabel jack yang suka kresek-kresek, dan obrolan nggak penting yang entah kenapa sekarang justru terasa paling berharga. 

Buku Ebook Anak Band Holidincom

Dulu kita mungkin belum punya apa-apa. Uang pas-pasan, alat pinjam sana-sini, skill juga belum seberapa, tapi percaya diri bisa setinggi ampli Marshall di panggung festival. 

Kita datang ke studio bawa gitar, stik drum, bass, atau cuma modal suara yang bagusnya nanggung, lalu merasa dunia ini bisa ditaklukkan hanya dengan satu lagu ciptaan sendiri yang belum tentu semua personel hafal chord-nya. 

Hidup waktu itu belum serumit cicilan, deadline kerja, tagihan bulanan, urusan ini-itu, dan drama kehidupan lainnya. 

Yang dipikirkan sederhana: kapan latihan lagi, lagu apa yang mau dibawain, dan kapan band kita kira-kira dikenal banyak orang? Sederhana, tapi justru di situlah letak magisnya.

Kangen masa nge-band itu bukan cuma kangen main musiknya. Lebih dari itu, kita kangen sama versi diri kita yang masih berani bermimpi tanpa terlalu banyak mikir gagal. 

Dulu, satu riff gitar bisa bikin dada terasa penuh harapan. Satu gebukan drum bisa bikin kepala lupa masalah. Satu lirik mentah yang ditulis di buku tulis bekas pelajaran sekolah bisa terasa seperti karya besar yang suatu hari akan dinyanyikan ribuan orang. 

Padahal kalau didengar sekarang, mungkin aransemennya masih berantakan, vokalnya fals tipis-tipis, mixing-nya nggak jelas, dan liriknya "terlalu" untuk ukuran manusia yang belum pernah benar-benar hancur secara profesional. 

Tapi anehnya, semua itu tetap punya tempat spesial. Karena di balik semua ketidaksempurnaan itu ada semangat yang jujur banget. 

Ada anak-anak band yang percaya bahwa musik bisa jadi jalan keluar, tempat pelarian, bahkan mungkin masa depan. 

Kita dulu nggak terlalu peduli soal algoritma, personal branding, engagement rate, atau strategi konten. 

Yang penting lagu jadi, latihan jalan, manggung kalau ada kesempatan, dan nama band kita tertulis di poster acara walaupun posisinya kecil banget di bagian bawah. 

Tetap bangga, karena buat kita waktu itu, nama band muncul di poster fotokopian aja rasanya sudah kayak masuk majalah musik internasional.

Studio rental dulu juga punya aura yang susah dijelaskan. Ruangannya mungkin sempit, karpetnya bau lembap, sound-nya kadang cempreng, mic-nya penuh bekas ludah sejarah, dan AC-nya cuma dingin di menit-menit awal. 

Tapi begitu ampli dinyalakan, pedal distorsi diinjak, dan drummer mulai ngetes snare dengan gaya sok profesional, semua kekurangan itu mendadak hilang. Studio kecil itu berubah jadi dunia sendiri. 

Di luar sana mungkin hidup biasa-biasa aja, tapi di dalam studio, kita merasa seperti band besar yang sedang mempersiapkan konser penting. 

Bahkan sebelum latihan mulai, dramanya sudah lengkap: gitaris sibuk nyetem hampir 30 menit, bassist diam-diam tapi paling ngaco, vokalis lupa lirik tapi tetap sok karismatik, drummer paling berisik bahkan sebelum lagu dimulai, dan satu teman yang sebenarnya bukan personel tetap tapi selalu nongkrong karena vibes-nya cocok. 

Lalu dimulailah latihan yang kadang lebih banyak ketawanya daripada progresnya. Salah masuk intro, tempo kabur, reff kepanjangan, outro nggak kompak, semua pernah terjadi. Tapi dari kekacauan itu justru lahir kenangan yang nggak bisa dibeli ulang. 

Sekarang mungkin kita bisa punya speaker dan alat musik bagus, laptop canggih, software rekaman lengkap, bahkan akses ke ribuan tutorial musik, tapi rasa deg-degan masuk studio rental bareng teman-teman lama itu tetap beda kelas. Ada energi mentah yang nggak bisa direkayasa.

Yang paling bikin kangen dari masa nge-band dulu adalah rasa percaya bahwa hidup masih panjang dan semua kemungkinan masih terbuka lebar. 

Dulu kita merasa bisa jadi apa saja. Hari ini latihan di studio murah, besok siapa tahu rekaman album, lusa mungkin masuk radio, tahun depan tur keliling kota. 

Optimismenya kadang nggak realistis, tapi justru indah karena belum dihantam realita terlalu keras. 

Kita belum terlalu paham bahwa industri musik itu nggak gampang, bahwa band bukan cuma soal lagu bagus, tapi juga soal konsistensi, ego, uang, waktu, jaringan, mental, dan kemampuan bertahan saat hidup mulai narik kita ke arah masing-masing. 

Pelan-pelan, satu per satu personel mulai sibuk teu puguh. Ada yang kerja, ada yang kuliah, ada yang moksa, ada yang pindah kota, ada yang hirupna pabeulit, dan ada juga yang jual alat musik karena butuh uang. 

Latihan yang dulu rutin seminggu sekali berubah jadi “nanti kita atur jadwal lagi ya”, lalu berubah jadi “kapan-kapan lah”, lalu akhirnya cuma jadi obrolan nostalgia di grup chat yang makin lama makin sepi. 

Dan di situlah kadang rasa kangen itu datang dengan cara yang agak aneh. Bukan cuma kangen lagunya, tapi kangen kebersamaannya. Kangen percaya bahwa dulu kita punya sesuatu yang besar untuk dikejar bareng-bareng.

Masa nge-band juga mengajarkan banyak hal tanpa terasa seperti pelajaran. Dari band, kita belajar bahwa ego bisa bikin lagu rusak, tapi ego juga kadang bikin seseorang berani punya karakter. 

Kita belajar bahwa pertemanan nggak selalu mulus, apalagi kalau sudah dicampur selera musik, pembagian part lagu, siapa yang paling dominan, dan siapa yang merasa paling punya visi. 

Kita belajar kompromi, meskipun dulu seringnya kompromi sambil ngedumel. Kita belajar disiplin, walaupun sering telat latihan. Kita belajar tampil percaya diri, walaupun lutut gemetar sebelum naik panggung. Kita belajar kecewa, waktu acara batal, sound system jelek, penonton sepi, atau lagu ciptaan kita ditanggapi biasa aja. 

Tapi kita juga belajar bahagia dari hal-hal kecil: tepuk tangan lima orang, teman yang ikut nyanyi di depan panggung, foto band yang buram tapi penuh gaya, atau satu komentar sederhana, “lagu kalian enak juga.” Kalimat sekecil itu dulu bisa jadi bahan bakar seminggu penuh. 

Sekarang kalau dipikir, gila juga ya. Tapi memang begitulah masa itu bekerja. Ia nggak selalu masuk akal, tapi selalu punya cara untuk terasa besar.

Dan mungkin, yang sebenarnya kita rindukan bukan cuma masa nge-band-nya, tapi rasa hidup yang waktu itu masih terasa lebih nekad, lebih jujur, dan lebih penuh warna. 

Distorsi dari ampli murahan, suara drum yang bocor ke ruangan sebelah, vokal yang pecah di nada tinggi, semua itu seperti simbol dari hidup yang belum terlalu rapi tapi sangat hidup. 

Sekarang hidup mungkin lebih tertata, lebih dewasa, lebih realistis. Tapi kadang, di tengah rutinitas yang itu-itu saja, kita diam-diam kangen jadi anak band lagi. 

Kangen duduk di depan studio sambil nunggu band lain latihan. Kangen debat lagu apa yang cocok buat dibawain. Kangen pulang malam dengan telinga berdenging tapi hati puas. Kangen merasa bahwa mimpi masih bisa diteriakkan sekencang-kencangnya lewat mic yang kadang enggak ada suaranya. 

Masa nge-band itu bukan sekadar fase. Ia adalah bukti bahwa kita pernah punya api. Pernah punya mimpi yang nggak malu-malu. Pernah punya teman seperjuangan. Pernah percaya bahwa hidup bisa berubah karena satu lagu, satu panggung, satu kesempatan. 

Dan meskipun sekarang jalannya sudah beda-beda, distorsi itu masih ada di dalam dada. Pelan, samar, dan belum benar-benar mati.