Dulu Kita Anak Band dan Sekarang Jadi Orang yang Diam-Diam Masih Rindu Panggung
Dulu, kita pernah jadi anak band dengan segala gaya sok kuatnya. Bukan cuma soal pegang gitar, gebuk drum, nyanyi di depan mic, atau nongkrong di studio rental sambil nunggu giliran latihan. Lebih dari itu, jadi anak band dulu rasanya kayak punya dunia sendiri.
Dunia yang berisik, sempit, kadang bau rokok, penuh kabel kusut, ampli mendengung, senar putus, stik drum patah, dan suara vokalis yang kadang fals tapi tetap pede karena merasa lagunya sudah paling dalam sedunia.
Kita pernah hidup di masa ketika jadwal latihan terasa lebih penting daripada urusan lain, ketika uang jajan bisa habis cuma buat bayar studio satu jam, beli air mineral, rokok Star Mild, atau patungan bensin motor buat datang ke acara pensi yang honor-nya kadang cuma ucapan “makasih ya, keren banget tadi.”
Tapi anehnya, semua itu tetap terasa menyenangkan. Bahkan sekarang, ketika dipikir ulang, bagian-bagian yang dulu bikin capek justru jadi hal yang paling dirindukan.
Sekarang hidup sudah beda. Dulu yang dibahas setlist, chord, efek gitar, gebukan drum, dan siapa yang selalu telat datang ke tempat latihan.
Sekarang yang dibahas cicilan, kerjaan, tagihan, deadline, harga BBM, dan notifikasi grup yang nggak tahu diri muncul bahkan pas malam hari.
Dulu kita ribut karena lagu belum kompak, sekarang kita diam karena hidup kadang terlalu ramai di kepala. Dulu kita takut salah chord di panggung, sekarang kita takut salah ambil keputusan dalam hidup.
Lucu, ya? Dulu panggung terlihat besar dan menakutkan, sekarang justru hidup yang terasa seperti panggung tanpa soundcheck, tanpa latihan, tanpa kru, tanpa penonton yang jelas, tapi kita tetap dipaksa tampil setiap hari.
Bedanya, dulu kalau salah main lagu, teman satu band masih bisa ketawa dan nutupin. Sekarang kalau salah langkah, kadang kita harus menanggungnya sendirian sambil pura-pura kuat dan baik-baik saja.
Ada satu jenis rindu yang susah dijelaskan: rindu panggung. Bukan selalu rindu jadi terkenal, bukan selalu rindu dikejar fans, bukan juga rindu dipanggil “rockstar” sama teman-teman tongkrongan. Kadang yang dirindukan justru hal-hal kecil yang kelihatannya receh.
1. Rindu suara kabel jack yang dicolok ke ampli lalu keluar bunyi “kresek” yang khas.
2. Rindu deg-degan sebelum lagu pertama dimulai.
3. Rindu tangan yang dingin sebelum naik panggung tapi sok santai di depan teman-teman.
4. Rindu melihat drummer memberi aba-aba dengan stik, lalu semua masuk bareng meskipun kadang ada yang kecepetan sepersekian detik.
5. Rindu momen setelah lagu selesai, ketika tepuk tangan mungkin nggak banyak, tapi cukup untuk bikin hati terasa penuh.
6. Rindu perasaan bahwa selama beberapa menit di atas panggung, hidup terasa punya arah yang jelas: mainkan lagu, keluarkan rasa, dan jangan berhenti sebelum selesai.
Yang paling nyesek dari rindu masa anak band adalah kenyataan bahwa kita nggak selalu bisa kembali ke sana.
Bukan karena alat musiknya hilang, bukan karena skill-nya sudah benar-benar mati, tapi karena waktunya sudah berubah.
Teman-teman satu band mungkin sudah punya kehidupan masing-masing. Ada yang sudah pindah negara, ada yang kerja jauh, ada yang sudah nggak main musik lagi, ada yang masih main tapi jarang muncul, ada juga yang cuma aktif repost lagu lama sambil bilang, “Kapan-kapan jamming lagi, bro,” tapi kapan-kapannya nggak pernah benar-benar datang.
Grup band di WhatsApp mungkin masih ada, tapi isinya sudah sepi. Foto-foto lama masih tersimpan, video manggung dengan kualitas buram masih bisa dibuka, tapi orang-orang di dalamnya sudah berubah.
Kita melihat diri sendiri di masa lalu: kurus, semrawut, sok keren, penuh mimpi, dan entah kenapa terlihat lebih hidup.
Dulu kita mungkin nggak sadar kalau masa-masa itu adalah bagian penting dari hidup. Waktu menjalaninya, kita cuma merasa sedang main musik, sedang nongkrong, sedang latihan, sedang cari panggung, sedang bikin lagu.
Tapi setelah bertahun-tahun lewat, baru terasa bahwa itu bukan sekadar aktivitas. Itu adalah fase ketika kita belajar percaya diri, belajar kerja sama, belajar menerima kritik, belajar kecewa, belajar bertahan, belajar berdamai dengan ego, dan belajar bahwa mimpi itu nggak selalu rapi.
Anak band tahu betul rasanya punya ide besar tapi modal kecil. Punya semangat tinggi tapi fasilitas pas-pasan. Punya lagu sendiri tapi belum tentu ada yang peduli. Punya panggung tapi sound system seadanya. Punya mimpi masuk industri musik tapi realitanya harus mulai dari tampil di acara sekolah, festival kecil, kafe, hajatan, sampai panggung yang listrik lebih sering mati daripada menyala.
Dan sekarang, ketika kita sudah jadi orang waras, rindu itu muncul diam-diam.
1. Kadang rindu itu datang ketika mendengar lagu lama yang dulu sering dibawakan saat latihan.
2.Kadang rindu itu muncul waktu melihat anak-anak sekolah bawa gitar naik motor bertiga, tas efek digantung, wajahnya penuh semangat meskipun jelas-jelas belum tahu betapa ribetnya mengurus band.
3. Kadang rindu itu muncul saat lewat studio rental yang dulu jadi markas kecil, lalu tiba-tiba ingatan seperti diputar ulang.
Kita ingat posisi duduk di ruang tunggu. Ingat aroma karpet studio. Ingat poster band yang mulai luntur di dinding. Ingat suara band lain yang latihan sebelum kita. Ingat teman yang selalu telat tapi paling banyak komentar. Ingat lagu yang nggak pernah selesai karena setiap latihan malah kebanyakan bercanda. Semua memori itu datang tanpa izin, lalu menampar pelan: ternyata kita pernah sebebas itu.
Mungkin sekarang kita nggak lagi naik panggung, tapi panggung itu belum benar-benar pergi dari dalam diri kita. Ia cuma berubah bentuk.
Ada yang menyimpannya dalam playlist lama. Ada yang menyimpannya dalam gitar berdebu di pojok kamar. Ada yang menyimpannya dalam kaus band yang sudah melar tapi masih sayang dibuang. Ada yang menyimpannya dalam cerita yang selalu keluar kalau ketemu teman lama: “Ingat nggak dulu pas manggung sound-nya kacau banget?” Lalu semua tertawa, padahal di dalam hati ada sesuatu yang gak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Karena kadang, yang bikin kita rindu bukan cuma musiknya, tapi versi diri kita saat itu. Versi yang lebih nekat, lebih gila, lebih mudah percaya bahwa mimpi bisa dikejar asal latihan rutin dan punya lagu sendiri. Versi yang belum terlalu banyak dihantam realita.
Tapi rindu panggung nggak harus selalu berarti kita harus kembali jadi anak band seperti dulu. Kadang rindu cukup jadi pengingat bahwa kita pernah punya nyala.
Bahwa sebelum hidup terasa serius, kita pernah punya keberanian untuk tampil, untuk bersuara, untuk salah di depan orang, untuk mencoba sesuatu yang belum tentu berhasil. Dan itu bukan hal kecil.
Banyak orang bahkan nggak pernah berani naik ke panggung hidupnya sendiri. Kita pernah.
1. Kita pernah berdiri di bawah lampu, meskipun panggungnya kecil.
2. Kita pernah memainkan lagu, meskipun penontonnya cuma teman sendiri.
3. Kita pernah merasa hidup sedang menyala, meskipun dompet kosong dan masa depan masih blur.
Jadi kalau hari ini kamu merasa hidup terlalu ribet, mungkin bukan berarti kamu harus kabur ke masa lalu. Mungkin kamu cuma perlu menghidupkan lagi sedikit keberanian anak band yang dulu pernah tinggal di dalam diri.
“Dulu Kita Anak Band dan Sekarang Jadi Orang yang Diam-Diam Masih Rindu Panggung” itu bukan cuma kalimat nostalgia.
Itu semacam pengakuan kecil bahwa ada bagian dari diri kita yang belum selesai dengan musik, belum selesai dengan mimpi, belum selesai dengan tepuk tangan, belum selesai dengan rasa deg-degan sebelum tampil.
Dan itu wajar. Nggak semua rindu harus disembuhkan. Ada rindu yang memang pantas disimpan, karena dari sana kita ingat bahwa hidup pernah senekat itu.
Kita boleh jadi orang waras, boleh sibuk, boleh punya masalah, boleh jarang menyentuh alat musik lagi.
Tapi jauh di dalam sana, mungkin masih ada anak band yang duduk di sudut hati, memegang gitar atau alat musik lainnya, menunggu aba-aba, lalu berbisik pelan: "Satu lagu lagi!"
