Anak Band dan Kenangan yang Masih Nyangkut di Gitar Lama
Ada satu masa yang rasanya nggak pernah benar-benar hilang buat anak band: masa ketika segalanya berbau latihan, suara senar putus, kabel yang kresek-kresek, dan kamar yang lebih mirip markas perang daripada tempat istirahat.
Dari luar mungkin kelihatannya cuma kumpulan orang yang nongkrong sambil bawa alat musik, berisik, lalu pulang masing-masing. Padahal di dalamnya ada dunia yang jauh lebih dalam dari itu.
Ada mimpi yang dibagi rame-rame, ada ego yang sering bentrok kayak nada fals yang nggak mau nurut, ada persahabatan yang dibangun pelan-pelan lewat sesi latihan yang molor, gig kecil yang penontonnya cuma segelintir, sampai momen-momen kecil yang sekarang justru paling susah dilupain.
Dan anehnya, dari semua benda yang pernah nemenin perjalanan itu, gitar lama sering jadi saksi paling jujur. Dia diam, tapi nyimpen terlalu banyak cerita.
Nggak cuma soal lagu yang pernah dibikin, tapi juga soal siapa yang pernah duduk di pojok kamar sambil ngetik lirik sambil galau, siapa yang pernah ngamuk habis debat soal aransemen, dan siapa yang pernah bilang, “Kita gas terus aja, bro,” walau sebenarnya semuanya lagi capek-capeknya.
Buat anak band, gitar lama itu bukan sekadar barang. Itu arsip hidup. Ada goresan di bodinya yang nggak pernah sengaja dibuat, tapi justru jadi penanda zaman. Ada bekas stiker yang sekarang udah ngelupas setengah, ada senar yang dulu pernah dipasang pas lagi bokek-bokeknya, ada pickup yang suaranya mungkin nggak sesempurna alat baru, tapi justru punya karakter yang bikin kangen setengah mati.
Setiap kali gitar itu diangkat lagi, rasanya kayak ada pintu yang kebuka ke masa lalu.
Tiba-tiba kebayang lagi malam-malam panjang sebelum manggung, tangan pegal karena latihan tanpa henti, jari yang kapalan tapi malah bangga nunjukin luka kecil itu, dan tawa receh yang cuma dipahami sama orang-orang satu tongkrongan.
Gitar lama bukan cuma alat musik, dia semacam album kenangan yang nggak bisa diputar lewat speaker, tapi bisa dirasain lewat getaran di dada.
Dan anehnya, kenangan yang paling susah dilepas justru bukan soal panggung besar atau tepuk tangan meriah, tapi hal-hal sederhana yang dulu dianggap biasa: hujan turun pas kita lagi bawa alat ke studio, makan gorengan sambil nunggu drummer datang, atau obrolan random tentang masa depan yang entah kenapa terasa sangat besar waktu itu.
Anak band itu memang punya hubungan yang agak unik dengan masa lalu. Di satu sisi, mereka pengin terus maju, bikin lagu baru, cari panggung baru, masuk ke hidup yang lebih serius, lebih sibuk, lebih “dewasa” katanya.
Tapi di sisi lain, ada bagian dari hati yang masih nyangkut di masa-masa dulu, saat semuanya terasa lebih bebas, lebih jujur, dan lebih penuh harapan.
Kenangan itu sering datang tanpa permisi, biasanya pas dengar chord tertentu, pas nemu pick yang dulu hilang di bawah kasur, atau pas lihat gitar lama yang udah mulai kusam tapi masih setia berdiri di sudut ruangan.
Saat itu, rasanya dunia mendadak pelan. Semua kesibukan sekarang kayak direm sebentar, lalu kepala otomatis balik ke masa ketika mimpi masih ditulis di kertas coret-coret, bukan di spreadsheet.
Dan jujur aja, ada rasa aneh yang susah dijelasin. Bukan cuma nostalgia, tapi semacam pengakuan diam-diam bahwa perjalanan itu nyata.
Bahwa dulu pernah ada versi diri kita yang lebih nekat, lebih idealis, dan lebih percaya kalau musik bisa ngubah segalanya. Versi diri itu mungkin sekarang udah jauh, tapi belum hilang.
Dia masih nyangkut di gitar lama itu, nempel di debu tipis yang nggak sempat dibersihin, dan hidup di tiap petikan yang pernah lahir dari tangan yang sama.
Mungkin itu sebabnya kenangan anak band nggak pernah benar-benar usai. Dia cuma pindah tempat.
Dulu hidup di studio sempit, di panggung sederhana, di garasi rumah teman, atau di rumah kontrakan yang lantainya bergetar tiap bass dinyalain.
Sekarang dia hidup di kepala, di lagu-lagu yang belum sempat direkam, di obrolan yang sempat tertunda, dan di gitar lama yang masih disimpan walau udah jarang dipakai.
Anak band bukan cuma soal suara keras atau gaya panggung. Ini soal perjalanan yang dibangun dari hal-hal kecil yang sering diremehin orang. Soal bersabar nunggu semua personel kumpul, soal ngerjain sesuatu dengan hati walau hasilnya belum tentu meledak, soal tetap main walau penonton cuma lima orang, dan soal terus bawa rasa yang sama meski waktu sudah bikin banyak hal berubah.
Gitar lama itu jadi simbol paling pas untuk semua itu. Dia bukan barang antik buat dipamerin. Dia pengingat bahwa pernah ada masa ketika kita hidup sepenuh hati, jatuh cinta sama proses, dan percaya bahwa satu lagu yang jujur bisa lebih berarti daripada seribu omongan kosong.
Dan ya, buat anak band yang pernah lewat semua itu, kenangan memang masih nyangkut. Nggak karena kita gagal move on, tapi karena ada bagian dari hidup yang memang layak disimpan baik-baik di sana—di gitar lama, di kepala, dan di hati.
