Cerita Mistis Kisah Nyata Tersesat di Alam Gaib Gunung Gede

Malam ini saya lagi-lagi teringat sama kisah seram yang dialami oleh Bang Mandra, yang katanya ini beneran kejadian di hidupnya. 

Jadi, ceritanya bermula pas dia lagi pengen liburan santai bareng, tapi malah milih naik gunung Gede yang katanya penuh misteri. 

Gunung Gede itu emang terkenal banget sama cerita-cerita mistisnya, dari hantu pendaki yang hilang sampe alam gaib yang bisa nyeret orang masuk ke dimensi lain. 

Bang Mandra bilang, dia awalnya nggak percaya sama yang begituan, cuma pengen ngetes adrenalin aja. 

Mereka berempat: Bang Mandra, si Doel yang tukang foto-foto, Atun yang cewek tangguh, dan Ko Ahong yang paling penakut. 

Mereka mulai pendakian pagi-pagi dari Cibodas, bawa tenda, makanan, dan peralatan lengkap. 

Cuaca lagi bagus, angin sepoi-sepoi, burung-burung nyanyi, pokoknya kayak lagi jalan-jalan di taman kota. Tapi, begitu masuk hutan lebat, suasana mulai berubah. 

Pohon-pohon tinggi menjulang, akar-akar gede nongkrong di tanah, dan kabut tipis mulai ngeyel nggak mau hilang meskipun matahari lagi terik. 

Bang Mandra cerita, mereka sempet ketawa-tawa pas liat monyet-monyet liar yang ngikutin mereka dari jauh, kayak lagi ngawasin. 

Tapi, semakin naik, semakin aneh. Mereka nemu batu-batu aneh yang kayak ditata rapi, padahal nggak ada jejak manusia lain. 

Bang Mandra bilang, itu mungkin batu keramat atau apa gitu, tapi mereka cuek aja dan lanjut jalan. Sampai di pos pertama, mereka istirahat, makan roti, minum kopi, dan cerita-cerita konyol. 

Waktu itu masih siang, jam dua belas lebih, dan rencananya malamnya camping di alun-alun Suryakencana yang katanya indah banget. Tapi, di sinilah mulai ada yang nggak beres. 

Saat lagi jalan lagi, tiba-tiba arah jalur kayak berubah sendiri. Pohon yang tadi dilewatin kok kayak beda, dan kompas di HP Bang Mandra mulai ngaco, muter-muter nggak jelas. 

Mereka pikir cuma sinyal jelek, tapi pas cek peta, mereka udah nyasar dari jalur utama. Kabut makin tebel, dan suara angin kayak bisik-bisik, bikin bulu kuduk merinding. 

Bang Mandra bilang, dia sempet denger suara tawa perempuan samar-samar, tapi dia pikir itu cuma angin atau imajinasi doang. 

Mereka coba balik, tapi malah makin masuk ke hutan yang lebih gelap, pohon-pohonnya kayak lebih tua, daunnya lebih lebat, dan tanahnya lembab banget kayak tanah kuburan yang baru kehujanan, padahal tadi kering. 

Waktu mulai gelap, mereka panik, nyalain senter, tapi baterai cepet banget abis, padahal baru di-charge. 

Akhirnya, mereka berhenti di sebuah pohon gede, bikin api unggun kecil, dan coba istirahat sambil nunggu pagi. 

Tapi, malam itu, hal-hal aneh mulai datang. Bang Mandra bilang, dia liat bayangan-bayangan bergerak di antara pohon, kayak orang lagi jalan tapi nggak ada suara langkah. 

Atun tiba-tiba jerit bilang ada yang pegang kakinya, tapi pas dicek, nggak ada apa-apa. Mereka coba saling genggam tangan, tapi tiba-tiba Koh Ahong hilang. 

Mereka panggil-panggil, tapi suaranya kayak ditelan hutan. Bang Mandra dan yang lain cari kemana-mana, tapi malah nemu sebuah kampung kecil yang aneh, rumah-rumah kayu tua, lampu minyak menyala, tapi nggak ada orang. 

Mereka masuk ke salah satu rumah, dan di sana ada makanan hangat, nasi, sayur, kayak lagi nunggu tamu. 

Bang Mandra bilang, itu pasti alam gaib, karena di gunung Gede emang ada cerita tentang desa hantu yang nyeret pendaki yang nyasar. 

Mereka makan sedikit, tapi rasanya aneh, manis banget tapi bikin ngantuk. Pas bangun, waktu kayak berhenti, matahari nggak terbit-terbit, dan mereka liat Koh Ahong lagi duduk di pojok, tapi mukanya pucet, mata kosong, dan bilang hal-hal aneh kayak bahasa sunda lama yang nggak dimengerti. 

Bang Mandra panik, dia ingat cerita orang tua dulu, kalau masuk alam gaib, jangan makan makanan mereka, karena bisa terjebak selamanya. 

Mereka coba kabur, tapi jalan keluar kayak berputar-putar, selalu balik ke kampung yang sama. 

Kabut makin tebel, suara-suara aneh makin kenceng, ada yang nangis, ada yang ketawa, ada yang manggil nama mereka. 

Bang Mandra bilang, dia sempet liat sosok perempuan berbaju putih panjang, rambutnya panjang menjuntai, lagi berdiri di belakang pohon, senyumnya lebar banget tapi mata hitam pekat. 

Itu pasti kuntilanak atau sundel bolong yang katanya jaga gunung itu. Mereka coba berdoa, tapi suara doa mereka kayak hilang, nggak kedengeran. 

Akhirnya, setelah berjam-jam yang rasanya berhari-hari, Bang Mandra ingat saran dari guide pendakian dulu: kalau nyasar di alam gaib, balikin baju atau sepatu, biar arah berubah. 

Mereka coba, dan tiba-tiba kabut hilang, mereka balik ke jalur utama, dan Koh Ahong normal lagi, meskipun dia nggak ingat apa-apa. 

Mereka turun gunung secepet kilat, dan pas cerita ke ranger, ranger bilang itu kejadian biasa, banyak pendaki yang ngalamin hal serupa, dan katanya itu alam gaib penunggu gunung yang lagi uji nyali manusia. 

Bang Mandra sekarang nggak pernah lagi naik gunung sendirian, dan setiap denger nama Gunung Gede, dia langsung merinding, karena dia yakin itu kisah nyata, bukan mimpi atau halusinasi. 

Beberapa tahun kemudian, Bang Mandra cerita lagi, dan tambah seram. Katanya, pas di kampung gaib itu, mereka nemu buku tua di salah satu rumah, isinya cerita tentang pendaki-pendaki lama yang hilang di gunung itu sejak zaman Belanda. 

Ada nama-nama yang mirip sama orang-orang yang mereka kenal, tapi tanggalnya ratusan tahun lalu. 

Bang Mandra bilang, dia sempet baca sekilas, dan ada gambar sketsa wajah yang mirip banget sama Atun, tapi berpakaian kuno. 

Itu bikin mereka tambah takut, karena kayaknya alam gaib itu lagi main-main dengan waktu dan ingatan mereka. 

Selain itu, suara-suara yang mereka denger bukan cuma bisik-bisik, tapi kayak cerita lama, ada yang bilang tentang perang, ada yang tentang ritual kuno suku Sunda yang dulu tinggal di sana. 

Koh Ahong pas hilang sebentar, katanya dia liat sungai yang airnya merah darah, dan di tepinya ada orang-orang lagi mandi, tapi badannya transparan. 

Bang Mandra yakin itu arwah korban letusan gunung atau pendaki yang mati tragis. Mereka juga nemu bunga-bunga aneh yang mekar di malam hari, baunya harum banget tapi bikin pusing, dan pas disentuh, bunganya layu seketika, kayak nyedot energi. 

Kabut yang tebel itu bukan kabut biasa, tapi kayak tirai yang pisahin dunia nyata sama dunia lain, dan setiap kali mereka coba lewatin, ada angin kenceng yang dorong balik. 

Bang Mandra bilang, dia sempet liat jam tangannya berhenti di angka 02:00, dan suhu tiba-tiba dingin banget, sampe napas keluar asap, padahal di gunung tropis. 

Mereka coba nyanyi lagu-lagu untuk usir takut, tapi suara mereka berubah, jadi kayak echo yang aneh, dan malah nambahin suara lain yang ikut nyanyi. 

Pas akhirnya kabur, mereka nemu jejak kaki mereka sendiri yang berputar-putar, tapi ada jejak kaki lain yang lebih kecil, kayak anak kecil, ngikutin mereka. Ranger bilang, itu mungkin jejak dedemit atau wewe gombel yang suka nyulik orang. 

Bang Mandra sekarang punya bekas luka aneh di kakinya, bentuknya kayak gigitan, tapi dokter Tifa bilang nggak ada apa-apa. Dia yakin itu dari makhluk gaib yang pegang Atun tadi. 

Kisah ini bikin saya mikir dua kali kalau mau camping di gunung, apalagi yang punya sejarah mistis kayak Gunung Gede. 

Bang Mandra bilang, alam gaib itu di Gunung Gede itu nyata, dan gunung itu kayak portal ke dunia lain, yang kalau kamu nggak hati-hati, bisa nyeret kamu masuk selamanya tanpa jejak. 

Saya tanya Bang Mandra lebih lanjut, dan dia tambah cerita yang bikin merinding. Katanya, pas di alam gaib itu, waktu berjalan beda. 

Mereka rasanya cuma semalam di sana, tapi pas turun, temen-temen di bawah bilang mereka hilang tiga hari. 

HP mereka mati total, dan pas dinyalain, ada pesan-pesan aneh dari nomor tak dikenal, isinya bahasa Sunda kuno yang artinya "jangan kembali". 

Foto-foto yang diambil doel di kamera, pas dicek, ada bayangan ekstra di belakang mereka, wajah-wajah pucat yang nggak mereka kenal. 

Atun setelah itu sering mimpi buruk, liat perempuan berbaju putih yang manggil dia balik ke gunung. 

Mereka coba cari info, dan nemu banyak cerita mirip, dari pendaki yang hilang berhari-hari, nemu desa hantu, atau liat makhluk-makhluk mitos, demit, siluman, hantu pocong, kuntilanak, sundel bolong, wewe gombel, genderuwo, tuyul, dan lain-lain. 

Gunung Gede katanya punya penunggu utama, semacam dewi gunung atau roh leluhur yang marah kalau manusia nggak hormat. 

Bang Mandra bilang, mereka mungkin salah karena sempet buang sampah sembarangan atau ketawa terlalu kenceng di tempat keramat. 

Sekarang, setiap anniversary kejadian itu, Bang Mandra selalu dapet firasat aneh, kayak denger suara angin bisik nama temen-temennya. 

Dia saranin, kalau naik gunung, bawa izin orangtua, doa, hormati alam, dan jangan pernah cuek sama tanda-tanda kecil. 

Kisah ini nyata, dan saya percaya, karena mata Bang Mandra pas cerita itu beda, penuh ketakutan yang dalam. 

Jadi, buat kamu yang suka petualang, hati-hati ya di Gunung Gede, jangan sampe tersesat ke alam gaib yang bisa bikin kamu hilang selamanya. #Mitos