Kesalahan Sahur yang Bikin Cepat Lapar dan Cara Menghindarinya
Banyak orang mengira rasa lapar yang datang terlalu cepat saat puasa itu hal yang wajar. Padahal, sering kali penyebabnya bukan karena tubuh kamu “kurang kuat”, tapi karena ada kesalahan saat sahur yang tanpa sadar terus diulang setiap hari.
Sahur itu bukan sekadar formalitas supaya “sudah makan”, tapi sebenarnya adalah momen penting untuk mengisi bahan bakar tubuh agar bisa bertahan hampir 14 jam tanpa asupan.
Kalau bahan bakarnya salah, ya jangan heran kalau baru jam 10 pagi perut sudah mulai keroncongan, badan lemas, dan fokus langsung buyar.
Ini bukan soal banyak atau sedikitnya makanan, tapi soal jenis makanan, pola makan, dan kebiasaan yang kamu lakukan saat sahur.
Salah satu kesalahan paling umum adalah terlalu banyak makan karbohidrat sederhana, seperti nasi putih dalam jumlah besar tanpa diimbangi protein dan serat.
Nasi putih memang mengenyangkan, tapi efeknya tidak tahan lama karena cepat dicerna tubuh.
Akibatnya, gula darah naik cepat lalu turun cepat juga, dan di situlah rasa lapar datang lebih awal. Ini seperti menyalakan api dengan kertas—menyala cepat, tapi juga padam cepat.
Supaya energi bertahan lama, tubuh butuh bahan bakar yang “terbakar perlahan”, seperti protein (telur, ayam, tempe, tahu) dan serat (sayur, buah, oatmeal).
Kombinasi ini membantu tubuh merasa kenyang lebih lama dan menjaga energi tetap stabil sepanjang hari.
Kesalahan berikutnya yang sering diremehkan adalah kurang minum air putih saat sahur. Banyak orang hanya minum segelas air, lalu berharap tubuh tetap segar sampai sore.
Padahal, dehidrasi bisa membuat tubuh terasa lemas, pusing, dan bahkan memicu rasa lapar palsu. Kadang tubuh sebenarnya haus, tapi otak menerjemahkannya sebagai lapar.
Inilah kenapa penting untuk minum air yang cukup saat sahur, idealnya 2–3 gelas, tapi jangan sekaligus.
Minum secara bertahap sebelum dan sesudah makan akan membantu tubuh menyerap cairan dengan lebih baik dan menjaga metabolisme tetap optimal.
Kesalahan lain yang diam-diam sabotase puasa kamu adalah terlalu banyak konsumsi makanan manis saat sahur, seperti teh manis, roti manis, atau makanan tinggi gula lainnya.
Memang terasa enak dan memberi energi cepat, tapi efeknya hanya sementara. Gula darah akan melonjak, lalu turun drastis, dan di situlah tubuh mulai merasa lapar, lemas, dan mengantuk. Ini seperti naik roller coaster—naik cepat, turun cepat, dan bikin tubuh “kaget”.
Sebaliknya, memilih makanan dengan indeks glikemik rendah seperti nasi merah, kentang rebus, atau roti gandum bisa membantu menjaga energi tetap stabil lebih lama.
Selain itu, sahur terlalu mepet dengan waktu imsak juga bisa jadi masalah. Banyak orang bangun last minute, makan terburu-buru, lalu langsung tidur lagi.
Kebiasaan ini membuat sistem pencernaan tidak bekerja optimal, dan tubuh tidak punya waktu untuk memproses makanan dengan baik. Akibatnya, energi yang dihasilkan tidak maksimal.
Idealnya, sahur dilakukan dengan cukup waktu, makan dengan tenang, dan beri jeda sebelum tidur lagi, atau lebih baik lagi jika tetap bangun dan mulai aktivitas ringan. Tubuh yang aktif setelah sahur cenderung mengelola energi dengan lebih efisien.
Kesalahan yang juga sering terjadi adalah melewatkan protein saat sahur. Padahal, protein adalah kunci utama untuk rasa kenyang yang tahan lama.
Protein dicerna lebih lambat dibanding karbohidrat, sehingga membantu menjaga perut tetap terasa penuh lebih lama.
Tanpa protein, sahur kamu seperti membangun rumah tanpa fondasi—terlihat cukup, tapi tidak kuat.
Menambahkan telur, tempe, tahu, ikan, atau ayam ke menu sahur bisa membuat perbedaan besar dalam daya tahan tubuh selama puasa.
Yang tidak kalah penting adalah kualitas tidur sebelum sahur. Kalau kamu tidur terlalu larut dan bangun dalam kondisi sangat lelah, tubuh sudah kekurangan energi sejak awal. Sahur memang membantu, tapi tidak bisa sepenuhnya menggantikan fungsi istirahat.
Kurang tidur membuat hormon lapar meningkat, sehingga kamu lebih cepat merasa lapar meskipun sudah makan. Inilah kenapa menjaga pola tidur selama puasa sama pentingnya dengan menjaga pola makan.
Kabar baiknya, semua kesalahan ini bisa diperbaiki dengan langkah sederhana. Mulailah dengan menu sahur yang seimbang: ada karbohidrat kompleks, protein, serat, dan cukup air.
Hindari terlalu banyak gula, jangan makan terburu-buru, dan pastikan tubuh cukup istirahat.
Sahur yang benar bukan cuma membuat kamu kenyang lebih lama, tapi juga membuat tubuh tetap bertenaga, pikiran lebih fokus, dan puasa terasa jauh lebih ringan.
Dengan strategi yang tepat, kamu tidak hanya “bertahan” selama puasa, tapi bisa menjalani hari dengan nyaman dan produktif tanpa drama lapar berlebihan. #Bulan Ramadan