Cerpen Hari Ini 6 Tahun yang Lalu
Sore hari itu sebenarnya punya vibe sendiri yang nggak bisa digantiin sama jam lain. Apalagi kalau langit lagi mendung pekat, awan hitam menggantung rendah, dan tiba-tiba hujan turun pelan-pelan kayak ketukan lembut di atap rumah.
Suasananya langsung berubah: udara jadi lebih dingin, bau tanah basah menyeruak, dan perasaan otomatis jadi lebih tenang, lebih adem, tapi nyaman.
Di momen kayak gitu, duduk santai di teras atau dekat jendela sambil menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi panas rasanya bukan sekadar aktivitas biasa—tapi semacam ritual pribadi buat jeda dari hiruk-pikuk kehidupan.
Kopi yang masih mengepul di cangkir enamel sederhana itu pelan-pelan diseruput, pahitnya nempel di lidah tapi hangatnya menyebar ke seluruh badan.
Asap rokok melayang tipis, berputar di udara, bercampur sama aroma hujan yang khas banget. Setiap hisapan rokok kayak ngiringin detik-detik sore yang bergerak lambat.
Bukan buru-buru, bukan ngejar apa-apa—cuma sore, kopi, rokok, dan suara hujan yang jatuh berirama. Rasanya dunia di luar sana bisa tunggu dulu.
Di tengah suasana itu, radio jadul di sudut ruangan nyala pelan, muterin ceramah Ustadz Prof. H. Abdul Somad, Lc., D.E.S.A., Ph.D.. Suaranya yang khas, tegas tapi hangat, mengalun bareng gemericik hujan.
Beliau ngomong soal kehidupan, iman, sabar, dan makna hidup dengan gaya yang renyah, mudah dipahami, tapi tetap dalem.
Setiap kalimatnya kayak nembus langsung ke hati, bikin hidup tiba-tiba lebih tenang dan membuat kita mikir sambil nyeruput kopi.
Sore yang hujan pun berubah jadi momen refleksi. Bukan cuma tentang menikmati rasa kopi atau nikotin rokok, tapi juga tentang merenungi diri, masa lalu, dan arah hidup ke depan.
Di antara kepulan asap, tetesan hujan, dan petuah Ustadz Prof. H. Abdul Somad, Lc., D.E.S.A., Ph.D. dari radio, ada rasa damai yang jarang kita dapetin di hari-hari biasa. Kayak alam, hati, dan pikiran lagi sinkron—sejenak berhenti, lalu napas lebih panjang.
Dan jujurnya, momen sederhana kayak gitu sering kali jauh lebih berharga daripada hal-hal mewah. Nggak perlu tempat fancy, nggak perlu musik mahal—cukup hujan, kopi, rokok, dan ceramah yang menyentuh jiwa.
Sore hari pun terasa bukan sekadar waktu menjelang malam, tapi ruang kecil buat menata hati, menenangkan kepala, dan pulang ke diri sendiri sebelum esok hari datang lagi. #Cerpen