Misteri Moksanya Ijazah Jokowi
Isu ijazah Jokowi awalnya kelihatan receh. Serius. Harusnya kan cuma urusan dokumen. ada, nggak ada, tunjukin! Selesai.
Tapi karena ini di Indonesia, hal sesederhana itu bisa berubah jadi cerita panjang berlapis-lapis kayak kue lapis.
Begitu ijazah dibahas terlalu sering, statusnya naik kelas. Dari dokumen akademik berubah jadi objek metafisik. Dari kertas jadi pusaka. Dari arsip jadi legenda.
Saya mulai ngerasa ada yang nggak biasa. Bukan karena datanya, tapi karena suasananya. Kok rasanya kayak lagi ngebahas sesuatu yang lebih besar dari sekadar universitas dan gelar.
Di titik ini, istilah moksa nongol dengan santainya di kepala saya. Lalu muncullah pembanding, yakni, Prabu Siliwangi.
Dalam cerita rakyat, beliau itu master ngilang elegan. Nggak mati, nggak kabur, tapi menyatu dengan alam.
Jadi kalau tokoh sebesar itu bisa moksa, logika saya sederhana, masa sih selembar ijazah nggak bisa?
Di sini logika modern udah nyerah. Yang jalan logika legenda. Segala sesuatu yang tak terlihat dianggap bukan hilang, tapi sedang “menjalani proses”.
Cerita makin melebar ketika tiba-tiba saya teringat sosok Mbah Jaya Perkosa. Dalam kisah tutur lokal, beliau dikenal sebagai sosok sepuh yang juga moksa di dayeuh luhur.
Mbah Jaya Perkosa bukan tipe tokoh yang ninggalin CV, arsip PDF, atau fotokopi legalisir. Yang ditinggal cuma tongkat, kisah, dan cerita. Dan di Indonesia, cerita itu lebih awet dari beton.
Nah, yang bikin ceritanya makin panjang dan nggak kelar-kelar adalah cara masyarakat kita ngobrol. Isu serius dibahas sambil bercanda, bercanda dibahas sambil serius.
Ada yang yakin, ada yang skeptis, ada yang cuma pengen rame. Semua campur jadi satu. Ijazah yang harusnya biasa aja, malah jadi simbol, jadi bahan tafsir, bahkan jadi alat ukur kepercayaan.
Di negeri ini, hutan bisa punya penunggu, batu, kayu, dan besi bisa punya tuah, dan kertas ijazah pun bisa moksa. Luar biasa kan? Tapi jujur aja, kalau enggak kayak gitu, ini bukan Indonesia namanya. #Isu Terkini