Imam Syafi’i Berbakti kepada Gurunya "Kisah Adab, Tawadhu, dan Ilmu yang Bikin Merinding"

Upami ngadangu nami Imam Syafi’i, pasti kebanyakan orang langsung fokus ke kejeniusan beliau di dalam ilmu fiqih. 

Padahal, ada satu sisi yang nggak kalah penting dan justru jadi “rahasia besar” kenapa ilmunya berkah dan terus hidup sampai sekarang. 

Cara Imam Syafi’i berbakti kepada gurunya, ini bukan cuma soal sopan santun biasa, tapi levelnya udah adab kelas dewa. 

Imam Syafi’i paham betul bahwa ilmu itu nggak akan masuk dengan baik ke hati orang yang sombong, apalagi yang merasa lebih pintar dari gurunya sendiri. 

Salah satu kisah yang paling sering diceritakan adalah bagaimana Imam Syafi’i sangat menjaga sikap ketika berada di hadapan gurunya, terutama kepada Imam Malik. 

Bayangin aja, Imam Syafi’i itu hafal kitab Al-Muwaththa’ di usia muda, tapi ketika duduk di majelis Imam Malik, beliau tetap rendah hati banget. 

Bahkan, beliau sampai membolak-balik halaman kitab dengan sangat pelan, takut suara kertasnya mengganggu sang guru. 

Bukan karena takut dimarahi, tapi karena rasa hormat yang luar biasa. Dari sini keliatan jelas, buat Imam Syafi’i, adab itu posisinya di atas segalanya, bahkan di atas kepintaran. 

Bakti Imam Syafi’i ke gurunya juga kelihatan dari cara beliau menjaga nama baik gurunya, baik saat sang guru masih hidup maupun setelah wafat. 

Beliau nggak pernah asal menyanggah pendapat gurunya dengan nada merendahkan. 

Kalau memang berbeda pendapat, beliau menyampaikannya dengan bahasa yang super halus dan penuh penghormatan. 

Nggak ada tuh drama merasa paling benar atau paling update. Justru beliau selalu mengaitkan ilmunya dengan jasa guru-gurunya, seolah ingin bilang, “Kalau bukan karena mereka, saya bukan siapa-siapa.” 

Menariknya lagi, cara Imam Syafi’i berbakti kepada gurunya bukan cuma dalam bentuk sikap, tapi juga doa. 

Beliau dikenal sering mendoakan guru-gurunya, bahkan setelah mereka wafat. Buat beliau, hubungan murid dan guru itu nggak putus cuma karena kematian. 

Ilmu yang diajarkan itu punya ruh, dan ruh itu dijaga dengan doa, rasa hormat, dan kenangan baik. 

Di zaman sekarang, ini kerasa banget relevansinya, apalagi di era medsos yang kadang bikin orang gampang meremehkan orang lain, termasuk gurunya sendiri. 

Kalau ditarik ke kehidupan kita hari ini, kisah Imam Syafi’i ini kayak tamparan halus tapi nyentil. 

Di saat banyak orang pengin cepat terkenal, cepat diakui, bahkan cepat “mengoreksi” orang lain, Imam Syafi’i justru ngajarin satu hal simpel tapi berat, yakni rendah hati di hadapan guru. 

Ilmu boleh setinggi langit, tapi kalau adab amburadul, ilmunya kering dan nggak ada berkahnya. Ingat, Kalau hanya berilmu, iblis purba pun berilmu.

Dan mungkin, inilah jawaban paling jujur dari pertanyaan bagaimana cara Imam Syafi’i berbakti kepada gurunya. Bukan cuma dengan mendengar dan belajar, tapi dengan hati yang tunduk, sikap yang santun, dan rasa hormat yang konsisten seumur hidup. #Islami