Self Efficacy "Kunci untuk Menghadapi Hidup yang Penuh Tantangan Tanpa Banyak Drama"

Self efficacy itu sebenarnya bukan istilah ribet ala buku psikologi yang cuma cocok dibaca mahasiswa abadi. Kalau disederhanakan, self efficacy adalah keyakinan dalam diri sendiri bahwa “gue bisa”

Bisa belajar hal baru, bisa menghadapi masalah, bisa bangkit lagi setelah jatuh, dan bisa bertahan walau hidup lagi ngasih level mode hardcore. 

Ini bukan soal sok pede atau merasa paling jago, tapi lebih ke rasa yakin bahwa diri kita cukup mampu buat mencoba, berproses, dan belajar dari kegagalan. 

Orang dengan self efficacy yang baik biasanya nggak langsung nyerah cuma gara-gara sekali gagal. Mereka jatuh, iya. Nangis, bisa jadi. Tapi habis itu bangkit lagi sambil bilang, “Oke, tadi gagal. Sekarang gue coba cara lain.” 

Di kehidupan sehari-hari, self efficacy kelihatan banget efeknya. Misalnya ada dua orang dengan kemampuan yang mirip, tapi hasil hidupnya beda jauh. 

Yang satu gampang down, takut mulai, kebanyakan mikir, dan ujung-ujungnya nggak ngapa-ngapain. Yang satunya lagi berani nyoba walau deg-degan, walau belum yakin 100%. 

Nah, sering kali bedanya bukan di bakat, bukan di hoki, tapi di self efficacy. Orang yang percaya pada kemampuannya sendiri cenderung lebih tahan banting. 

Dia nggak gampang ke-trigger omongan orang, nggak langsung merasa bodoh cuma karena dikritik, dan nggak buru-buru nyimpulin “gue emang nggak bisa” padahal baru satu kali gagal. 

Menariknya, self efficacy itu bukan bawaan lahir yang permanen. Ini bukan semacam takdir, “oh dia emang terlahir pede, gue nggak.” Nggak gitu. Self efficacy bisa dibangun pelan-pelan lewat pengalaman. 

Setiap kali kita berhasil ngerjain sesuatu, sekecil apa pun itu, otak kita nyimpen memori: “Oh, ternyata gue bisa ya.” Dari situ kepercayaan diri tumbuh. 

Makanya penting banget buat berhenti meremehkan kemenangan kecil. Berhasil bangun pagi tepat waktu, konsisten nulis seminggu penuh, berani ngomong di depan orang walau suara gemetar—itu semua bahan bakar self efficacy. 

Kalau tiap hari kita cuma fokus ke kekurangan dan kegagalan, ya jangan heran kalau rasa “gue bisa” makin tipis. 

Self efficacy juga erat kaitannya sama cara kita ngobrol sama diri sendiri. Inner dialogue itu pengaruhnya ngeri-ngeri sedap. 

Kalau tiap gagal kita ngomel ke diri sendiri, bilang “dasar nggak becus”, “emang dari dulu nggak pernah bisa”, lama-lama otak percaya itu sebagai fakta. Padahal sering kali itu cuma emosi sesaat. 

Orang dengan self efficacy yang sehat biasanya lebih ramah ke dirinya sendiri. Mereka tetap jujur soal kesalahan, tapi nggak kejam. Alih-alih bilang “gue payah”, mereka bilang “oke, tadi kurang maksimal, lain kali diperbaiki.” 

Kedengarannya sepele, tapi cara ngomong ke diri sendiri ini pelan-pelan nentuin seberapa berani kita melangkah ke depan. 

Di dunia yang serba pamer pencapaian kayak sekarang, self efficacy juga jadi tameng mental yang penting. Scroll media sosial dikit, isinya orang sukses semua: bisnis lancar, badan ideal, hidup keliatan rapi. 

Kalau self efficacy kita rapuh, gampang banget kejebak perasaan minder dan ngerasa tertinggal. Tapi kalau self efficacy kita kuat, kita bisa lihat pencapaian orang lain tanpa langsung merasa kecil. 

Kita sadar setiap orang punya timeline masing-masing. Kita fokus ke proses sendiri, ke langkah yang bisa kita ambil hari ini, bukan sibuk bandingin hidup kita sama highlight hidup orang lain. 

Intinya, self efficacy itu fondasi mental buat menjalani hidup dengan lebih waras. Bukan berarti hidup jadi mulus tanpa masalah, tapi kita jadi lebih siap menghadapi apa pun yang datang. 

Kita nggak lagi hidup dalam mode “takut gagal”, tapi “siap belajar”. Dan percayalah, hidup terasa jauh lebih ringan saat kita berhenti meragukan diri sendiri terus-menerus. 

Pelan-pelan aja. Bangun self efficacy dari hal kecil, dari janji sederhana ke diri sendiri yang ditepati. Karena semakin sering kita membuktikan bahwa kita bisa, semakin kuat keyakinan itu tumbuh. Dan dari situlah perubahan besar biasanya dimulai. #Postingan Lainnya