Leuweung Sancang "Perpaduan Alam, Sejarah Pajajaran, dan Misteri Laut Selatan"
Cagar Alam Leuweung Sancang yang ada di Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu bukan sekadar hutan lindung biasa.
Tempat ini unik banget karena jadi titik ketemunya alam yang masih terjaga dengan cerita sejarah dan kepercayaan yang udah hidup lama di masyarakat Sunda.
Jadi, Leuweung Sancang nggak bisa cuma dilihat dari sisi lingkungan atau aturan kehutanan doang, tapi juga sebagai kawasan yang dianggap sakral dan penuh makna budaya.
Letaknya pas di pesisir selatan Jawa, langsung berhadapan dengan Samudera Hindia yang terkenal ganas dan misterius.
Di sinilah tersisa salah satu potongan terakhir hutan hujan tropis dataran rendah asli Pulau Jawa—jenis hutan yang di tempat lain udah banyak punah.
Secara ekologi, kawasan ini super penting karena jadi rumah bagi berbagai flora dan fauna langka, mulai dari pohon kaboa yang khas banget sampai macan tutul Jawa yang keberadaannya makin terancam.
Tapi Leuweung Sancang nggak cuma soal alam. Tempat ini juga lekat banget dengan legenda Prabu Siliwangi, raja terakhir Kerajaan Pajajaran.
Dalam cerita yang dipercaya turun-temurun, Prabu Siliwangi diyakini memilih moksa atau ngahyang di hutan ini demi menghindari konflik dan pertumpahan darah dengan keturunannya yang sudah masuk Islam.
Cerita inilah yang bikin Leuweung Sancang punya aura mistis dan dihormati sampai sekarang.
Ditambah lagi, wilayah laut di sekitar Sancang juga sering dikaitkan dengan berbagai kejadian aneh dan misterius, bikin kawasan ini makin lengkap sebagai perpaduan antara ekologi, sejarah, mitos, dan fenomena alam.
Karena itulah, Leuweung Sancang jadi bahan kajian yang luas banget—nggak cuma buat peneliti lingkungan, tapi juga sejarawan, budayawan, sampai masyarakat umum yang penasaran.
Postingan ini mencoba ngebedah #Leuweung Sancang dari berbagai sisi: mulai dari kondisi geografisnya, cerita sejarah dan mitos yang melekat, sampai tantangan besar dalam menjaga kelestariannya ke depan.
Singkatnya, ini adalah salah satu kawasan paling legendaris dan penuh cerita di tanah Pasundan yang layak banget buat dipahami lebih dalam.
Letak Wilayah dan Status Hukum Leuweung Sancang
Kalau dilihat dari peta, Cagar Alam Leuweung Sancang ada di Desa Sancang, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Titik lokasinya kurang lebih di koordinat 7°43′ LS dan 107°54′ BT.
Dari pusat kota Garut, jaraknya sekitar 111 kilometer, jadi memang lumayan jauh dan terpencil.
Justru karena letaknya jauh dari keramaian, alam di dalam Leuweung Sancang bisa tetap terjaga selama puluhan tahun.
Walaupun sekarang, akses ke sana mulai lebih terbuka sejak adanya pembangunan jalur lintas selatan.
Leuweung Sancang ini bukan cuma hutan daratan, tapi satu paket lengkap antara hutan dan laut.
Batas kawasannya ketemu langsung dengan Samudera Hindia, dan dipisahkan oleh muara beberapa sungai besar seperti Sungai Cibaluk dan Sungai Cipalawah.
Sungai-sungai inilah yang jadi penghubung alami antara hutan dan laut di kawasan Sancang.
Soal status hukumnya, Leuweung Sancang udah diakui negara sejak awal masa kemerdekaan.
Artinya, dari dulu kawasan ini memang dianggap penting buat menjaga keseimbangan lingkungan di wilayah barat Pulau Jawa.
Penetapannya sebagai kawasan konservasi dilakukan bertahap dan lewat berbagai aturan resmi.
Awalnya, Leuweung Sancang ditetapkan sebagai cagar alam daratan lewat SK Menteri Pertanian No. 116/Um/59 pada 1 Juli 1959.
Status ini kemudian diperkuat lagi pada 5 Oktober 1961 lewat SK Menteri Pertanian No. 9470/SK/M, dengan luas kawasan darat sekitar 2.157 hektar.
Nggak berhenti di situ, pemerintah juga sadar kalau laut di sekitar Sancang sama pentingnya.
Maka pada 17 November 1990, ditetapkanlah Cagar Alam Laut Sancang seluas sekitar 1.150 hektar lewat SK Menteri Kehutanan No. 682/Kpts-II/1990.
Gabungan antara kawasan hutan dan laut ini bikin Leuweung Sancang jadi koridor konservasi yang super penting.
Di sini ada terumbu karang, padang lamun, sampai hutan mangrove yang saling terhubung dan saling bergantung satu sama lain.
Dari segi bentuk wilayah, #Leuweung Sancang punya kontur yang relatif landai dan makin menurun ke arah pantai selatan.
Kondisi ini bikin ekosistem peralihan antara hutan dan laut berkembang dengan baik.
Daun-daun kering dan sisa organik dari hutan terbawa aliran sungai kecil ke laut, dan itu jadi sumber nutrisi alami buat biota laut di pesisir.
Di dalam kawasan hutan, ada pembagian blok-blok pemantauan. Salah satunya Blok Cihanjuang, yang letaknya di antara Sungai Cikalomeran dan Sungai Cipamingkis.
Di area ini, sering ditemukan pohon-pohon raksasa dengan diameter sampai 1,5 meter dan tinggi lebih dari 45 meter—bukti kalau hutan ini memang masih tua dan alami.
Selain itu, ada juga wilayah-wilayah dengan nama lokal seperti Cimerak, Cijeruk, sampai Panglima.
Nama-nama ini bukan sekadar penanda lokasi, tapi juga punya nilai ekologis dan sejarah tersendiri bagi warga sekitar.
Benteng Terakhir Flora dan Fauna Jawa
Kalau ngomongin soal keanekaragaman hayati, Leuweung Sancang itu ibarat harta karun terakhir buat flora dan fauna Jawa.
Kawasan ini sering disebut sebagai “laboratorium alam” karena isinya lengkap banget dan masih relatif utuh.
Dari hasil berbagai penelitian, tercatat ada sekitar 199 jenis tumbuhan yang hidup di sini.
Isinya beragam, mulai dari 149 jenis pohon, 37 jenis tumbuhan bawah dan epifit, sampai 13 jenis liana dan rotan yang merambat di antara pepohonan besar.
Salah satu tanaman paling ikonik di Sancang adalah Rafflesia patma, bunga raksasa yang hidup sebagai parasit.
Bunga ini nempel di tanaman inangnya yang dikenal sebagai batang kibalera (Tetrastigma lanceolarium).
Mekarnya Rafflesia patma bukan hal biasa, karena butuh kondisi hutan yang benar-benar stabil.
Makanya, kemunculan bunga ini sering dianggap sebagai tanda kalau hutan primer Leuweung Sancang masih sehat dan terjaga.
Tapi kalau bicara simbol khas Sancang, yang paling melekat di ingatan warga justru pohon Kaboa.
Pohon ini banyak tumbuh di sepanjang bibir pantai dan punya akar super kuat buat nahan hantaman ombak selatan yang ganas. Buat masyarakat sekitar, Kaboa bukan sekadar pohon pantai.
Ada kepercayaan turun-temurun yang bilang kalau pohon ini adalah wujud Prabu Siliwangi dan para pengikutnya, yang “menyatu” dengan alam supaya bisa terus menjaga kawasan Sancang selamanya.
Selain itu, ada juga temuan penting di dunia botani, yaitu Meranti Merah (Anisoptera costata).
Pohon ini ditemukan di kawasan Sancang pada Oktober 1983 dan bikin heboh para peneliti, karena sebelumnya dianggap sudah punah di Pulau Jawa.
Temuan ini makin menegaskan betapa pentingnya Leuweung Sancang sebagai tempat perlindungan terakhir bagi spesies langka.
Dari sisi fauna, Leuweung Sancang juga jadi rumah buat Macan Tutul Jawa, predator puncak yang keberadaannya makin langka.
Walaupun jarang terlihat langsung, jejak kaki dan kotorannya masih sering ditemukan di jalur-jalur hutan. Ini jadi tanda kalau rantai makanan di Sancang masih berjalan dengan baik.
Selain macan tutul, kawasan ini juga dihuni oleh lima jenis primata Jawa yang semuanya dilindungi: Owa Jawa, Surili, Lutung Jawa, Monyet Ekor Panjang, dan Kukang Jawa.
Suara owa yang menggema di pagi hari jadi salah satu ciri khas hutan Sancang.
Dulu, Leuweung Sancang juga dikenal sebagai habitat Banteng Jawa. Sayangnya, populasi mamalia besar ini menurun drastis akibat rusaknya habitat dan aktivitas perburuan liar yang masih terjadi sejak era reformasi.
Kondisi ini jadi pengingat keras bahwa status kawasan konservasi belum tentu menjamin perlindungan maksimal tanpa pengawasan yang serius.
Nggak cuma mamalia, dunia burung di Leuweung Sancang juga super kaya. Tercatat ada sekitar 124 jenis burung, termasuk burung-burung migran dari luar negeri yang mampir ke pesisir Sancang saat musim tertentu.
Burung seperti Numenius phaeopus dan Tringa totanus sering terlihat mencari makan di area pasang surut, menjadikan kawasan ini sebagai rest area alami dalam jalur migrasi mereka.
Singkatnya, #Leuweung Sancang bukan cuma hutan, tapi benteng terakhir bagi banyak spesies penting Jawa.
Kalau kawasan ini rusak, yang hilang bukan cuma pepohonan, tapi juga potongan besar dari sejarah alam dan budaya kita.
Kisah Akhir Pajajaran, Pelarian, Moksa, dan Lahirnya Sancang
Cerita tentang Leuweung Sancang nggak bisa dipisahkan dari kisah akhir Kerajaan Sunda Pajajaran di abad ke-16.
Tokoh utamanya tentu saja Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja, raja besar yang berkuasa dari tahun 1482 sampai 1521 dan sering disebut sebagai pemimpin di masa kejayaan orang Sunda.
Masalah besar mulai muncul saat Prabu Siliwangi berbeda pandangan dengan putranya sendiri, Raden Kian Santang—yang juga dikenal sebagai Prabu Borosngora atau Rohmat Suci.
Setelah lama berkelana hingga ke Tanah Suci, Kian Santang memeluk agama Islam dan berniat mengajak ayahnya untuk ikut masuk Islam.
Tapi Prabu Siliwangi tetap memilih memegang ajaran leluhur atau kepercayaan karuhun yang sudah diwariskan turun-temurun.
Perbedaan keyakinan ini berpotensi memicu konflik besar, bahkan perang saudara.
Nggak mau melihat keluarganya saling bunuh dan rakyatnya jadi korban, Prabu Siliwangi memilih jalan yang paling berat: meninggalkan Pakuan Pajajaran, ibu kota kerajaannya, lalu berjalan ke arah selatan.
Perjalanan ini bukan perjalanan singkat. Sang Prabu melewati banyak tempat yang sekarang dikenal sebagai situs petilasan di wilayah Garut, seperti Munjul—yang konon berarti “muncul”—dan Padarek.
Dari sana, ia terus melangkah sampai akhirnya tiba di pesisir selatan Jawa, wilayah yang saat itu dikenal sebagai Kerajaan Sancang.
Kerajaan Sancang sendiri dipimpin oleh Maharaja Dilewa, yang masih saudara dekat Prabu Siliwangi.
Kedatangan Prabu Siliwangi ke Sancang dipercaya sebagai usaha mencari tempat perlindungan terakhir—jauh dari hiruk-pikuk politik pusat, tapi tetap aman karena berada di wilayah keluarga sendiri.
Menurut cerita lisan dan naskah-naskah kuno yang dipercaya masyarakat setempat, di hutan lebat Sancang inilah Prabu Siliwangi akhirnya melakukan prosesi spiritual yang dikenal sebagai ngahyang atau moksa.
Artinya, ia menghilang dari dunia nyata dan masuk ke alam gaib. Konon, sebelum menghilang, Prabu Siliwangi berpesan kepada para pengikut setianya agar tidak menoleh ke belakang apa pun yang terjadi.
Namun, dalam kisah yang berkembang, larangan itu dilanggar. Saat ada yang menoleh, terjadilah peristiwa besar: Kerajaan Sancang yang megah lenyap seketika, berubah menjadi hutan lebat yang angker.
Para prajurit setia Prabu Siliwangi dipercaya berubah wujud menjadi harimau atau Maung Sancang, makhluk penjaga yang bertugas melindungi sang Prabu di alam keabadian.
Karena itulah sampai sekarang #Leuweung Sancang nggak pernah dianggap sebagai hutan biasa.
Bagi banyak orang Sunda, tempat ini dipercaya sebagai istana gaib peninggalan Pajajaran, yang masih “hidup” dan dijaga oleh entitas dari masa lalu.
Aura mistisnya bukan sekadar cerita seram, tapi bagian dari ingatan sejarah, kepercayaan, dan identitas budaya yang masih bertahan sampai hari ini.
Mitos Maung Sancang dan Pohon Kaboa dalam Budaya Sunda
Di Jawa Barat, cerita tentang Maung Sancang bukan sekadar dongeng buat nakut-nakutin orang.
Mitos ini punya peran penting dalam budaya Sunda, terutama sebagai cara tradisional buat ngajarin manusia supaya hormat sama alam.
Banyak orang Sunda percaya kalau Prabu Siliwangi berubah wujud jadi harimau putih besar (Maung Bodas) setelah melakukan tapa di dalam hutan Sancang.
Kepercayaan ini bikin sosok harimau dipandang bukan sebagai hewan biasa, tapi sebagai penjaga spiritual hutan.
Harimau dianggap mengawasi tingkah laku manusia—kalau ada yang serakah atau merusak hutan, diyakini bakal kena “peringatan”. Dari sinilah muncul rasa hormat sekaligus takut terhadap maung.
Nggak heran kalau patung-patung harimau banyak dipasang di markas militer atau kantor pemerintahan di Jawa Barat.
Itu bukan pajangan doang, tapi simbol kewibawaan, keberanian, dan perlindungan yang dikaitkan dengan sosok Prabu Siliwangi.
Kisah mistis ini juga nyambung ke pohon Kaboa, pohon yang dianggap sakral di Leuweung Sancang.
Menurut legenda, sebelum Prabu Siliwangi ngahyang atau moksa, beliau sempat menorehkan tulisan di kulit pohon pakai pisau pangot.
Tulisan itu berbunyi: “kaboa panggih, kaboa moal, tapak lacak kaula ku anak incu”—yang artinya kira-kira, mungkin bertemu, mungkin tidak, tapi jejak langkahku akan diikuti oleh anak cucu.
Dari kalimat itulah kata “Kaboa” dipercaya berasal, lalu dipakai jadi nama pohon yang sekarang dianggap punya kekuatan khusus.
Kulit kayu Kaboa diyakini punya tuah buat nambah wibawa dan kharisma, makanya dulu sering diburu buat dijadiin jimat atau bagian dari tongkat komando.
Tapi ngambil kayu ini nggak boleh sembarangan. Harus lewat ritual khusus dan dipimpin oleh kuncen, buat minta izin ke penghuni gaib hutan Sancang.
Ritual-ritual di #Leuweung Sancang sendiri nunjukin cara orang Sunda berkomunikasi dengan Tuhan lewat perantara leluhur atau karuhun.
Di tempat-tempat keramat seperti Cikajayaan, orang-orang biasanya melakukan tawasulan, membakar kemenyan sebagai simbol “surat” buat nyampein niat ke alam, sampai melantunkan ngidung atau puisi Sunda kuno.
Walaupun mayoritas masyarakat Sancang sekarang beragama Islam, tradisi-tradisi ini tetap dijaga.
Bukan karena bertentangan dengan keyakinan, tapi sebagai bentuk kearifan lokal yang ngajarin sopan santun terhadap alam.
Intinya, hutan itu bukan benda mati yang bisa dieksploitasi seenaknya.
Kalau dilihat dari kacamata ilmu lingkungan dan budaya, mitos Maung Sancang dan pohon Kaboa ini sebenarnya adalah bentuk pengetahuan lokal yang sangat efektif.
Jauh sebelum ada undang-undang konservasi modern, cerita-cerita inilah yang berhasil bikin hutan Sancang tetap lestari sampai sekarang.
Misteri Laut Sancang: “Segitiga Bermuda”-nya Jawa
Misteri Leuweung Sancang ternyata nggak cuma berhenti di hutannya doang. Laut di sebelah selatannya juga punya cerita yang nggak kalah serem dan bikin merinding.
Bahkan, perairan Sancang sering dijuluki “Segitiga Bermuda versi Jawa” karena dikenal sering “menelan” kapal-kapal besar yang lewat di sana.
Di pantai Sancang ada satu area yang cukup sering disebut, namanya Cetut atau Cikolomberan.
Di titik ini, tercatat ada beberapa kapal tanker besar yang kandas dalam waktu yang relatif berdekatan, dan anehnya lokasinya hampir di titik yang sama. Setidaknya ada tiga kapal tanker besar yang mengalami nasib serupa di kawasan ini.
Dari sinilah muncul perdebatan: ini murni kesalahan teknis navigasi, atau ada “faktor lain” yang ikut campur?
Kasus yang paling ramai dibicarakan adalah kandasnya kapal tanker MT Edricko 3 pada 8 Maret 2022.
Kapal sepanjang sekitar 70 meter ini sedang berlayar dari Sibolga ke Cilacap sambil membawa muatan aspal.
Di tengah perjalanan, kapal ini dilaporkan mengalami kerusakan sistem kemudi dan akhirnya terdampar di atas hamparan karang dangkal.
Yang bikin cerita ini makin aneh, menurut nelayan dan beberapa pengamat maritim, sistem navigasi kapal seperti radar dan GPS sering “ngaco” di wilayah ini.
Di layar, daratan masih kelihatan jauh dan aman, padahal aslinya kapal sudah masuk ke perairan dangkal penuh terumbu karang. Akibatnya, kapal keburu nyangkut sebelum awak sempat sadar bahaya.
Proses evakuasi MT Edricko 3 juga nggak berjalan mulus. Berkali-kali dicoba buat ditarik balik ke laut, tapi selalu gagal dengan berbagai kendala yang dianggap nggak biasa.
Sampai akhirnya, kapal itu nggak bisa diselamatkan dan terpaksa dipotong-potong di lokasi, lalu diangkut lewat jalur darat.
Kalau dijelasin secara ilmiah, laut Sancang memang punya bahaya serius. Di sepanjang pesisirnya terdapat hamparan terumbu karang yang luas, bahkan menjorok sampai lebih dari 600 meter ke arah laut.
Parahnya lagi, di kawasan ini hampir nggak ada mercusuar atau penanda bahaya yang jelas. Jadi, kapal-kapal besar—apalagi yang melintas malam hari atau saat air laut pasang—sering nggak sadar kalau mereka sudah terlalu dekat dengan karang.
Tapi buat warga lokal, penjelasannya nggak sesederhana itu. Banyak yang percaya kalau kandasnya kapal-kapal besar adalah teguran dari penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul, atau bentuk perlindungan gaib terhadap kawasan Sancang yang dianggap suci.
Teknologi besar, kapal raksasa, dan aktivitas industri dipercaya bisa mengganggu keseimbangan spiritual kawasan ini—dan laut seakan “menolak” kehadiran mereka.
Mau percaya penjelasan ilmiah atau mistis, satu hal yang pasti: laut Sancang bukan laut biasa. Ia menyimpan bahaya nyata sekaligus cerita gaib yang bikin siapa pun mikir dua kali sebelum meremehkannya.
Uga Wangsit Siliwangi adalah Ramalan Masa Depan dan Petuah Hidup Orang Sunda
Salah satu peninggalan spiritual paling penting dalam budaya Sunda—dan erat banget hubungannya dengan Leuweung Sancang—adalah Uga Wangsit Siliwangi.
Wangsit ini dipercaya sebagai pesan terakhir atau amanat yang ditinggalkan Prabu Siliwangi sebelum beliau ngahyang.
Isinya bukan cuma ramalan soal masa depan, tapi juga petunjuk hidup tentang gimana orang Sunda seharusnya bersikap menghadapi perubahan zaman yang sering ribet, kacau, dan penuh konflik.
Dalam wangsit ini, Prabu Siliwangi membagi para pengikutnya ke dalam empat kelompok, berdasarkan arah mata angin yang mereka pilih untuk melanjutkan hidup.
Mereka yang bergerak ke arah selatan, menuju wilayah Sancang, digambarkan sebagai kelompok yang tetap setia menjaga jati diri dan ajaran leluhur.
Sementara itu, yang bergerak ke arah barat diarahkan untuk mengikuti jalan Ki Santang (Islam), bukan sebagai musuh, tapi sebagai pengingat dan penyeimbang bagi saudara-saudaranya yang lain.
Prabu Siliwangi juga menegaskan bahwa sejak saat itu, Pajajaran akan hilang secara fisik dari dunia nyata.
Kerajaan itu nggak akan meninggalkan bekas yang bisa dilihat mata, kecuali namanya saja—dan itupun hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang mencari sejarah dengan hati yang bersih, bukan dengan niat serakah atau kepentingan pribadi.
Meski begitu, Prabu Siliwangi berjanji tidak benar-benar meninggalkan keturunannya. Ia dipercaya akan datang di waktu-waktu tertentu untuk menolong mereka yang sedang kesusahan.
Tapi kehadirannya bukan dalam bentuk suara atau wujud manusia, melainkan lewat wewangian yang tajam dan khas, yang sering dianggap sebagai tanda kehadiran gaib sang Prabu.
Bagian wangsit yang paling sering dibicarakan sampai sekarang adalah ramalan tentang kemunculan Budak Angon (Anak Gembala) dan Budak Janggotan (Pemuda Berjanggut) di masa depan.
Mereka digambarkan sebagai sosok yang bakal muncul saat dunia sedang rusak dan nilai-nilai kemanusiaan udah banyak ditinggalkan.
Budak Angon sendiri diceritakan tinggal di rumah sederhana di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutup tanaman handeuleum dan hanjuang.
Tapi yang menarik, pekerjaannya bukan menggembala ternak, melainkan mengumpulkan serasah dan potongan kayu—yang sering dimaknai sebagai simbol mengumpulkan kembali potongan sejarah, nilai, dan kebenaran yang tercecer.
Secara sosial, ramalan ini sering ditafsirkan sebagai harapan akan datangnya pemimpin yang adil (Ratu Adil), sosok yang mampu menata ulang dunia setelah manusia melewati masa panjang penuh penderitaan di bawah kepemimpinan yang “buta”—buta nurani, buta keadilan, dan buta rasa.
Bagi masyarakat Sancang, kepercayaan terhadap Uga Wangsit Siliwangi ini jadi pegangan moral.
Hutan Sancang dijaga bukan cuma sebagai sumber alam, tapi sebagai “tabungan spiritual”—warisan yang harus tetap utuh supaya janji masa depan yang diyakini dalam wangsit itu bisa terwujud suatu hari nanti.
Mitos Sancang “Direkayasa”
Di kalangan sejarawan lokal, ada satu teori menarik yang sering dibahas, salah satunya disampaikan oleh Warjita.
Teori ini bilang kalau cerita keangkeran Leuweung Sancang—termasuk mitos Prabu Siliwangi berubah jadi macan—bisa jadi nggak muncul begitu saja, tapi sengaja dipelihara, bahkan diperkuat, oleh pemerintah kolonial Belanda.
Alasannya cukup masuk akal. Pada masa kolonial, Belanda punya kepentingan besar buat menjaga hutan-hutan di Jawa.
Hutan itu bukan cuma sumber kayu berkualitas tinggi, tapi juga punya nilai ekonomi dan ekologis yang besar.
Masalahnya, menjaga hutan pakai tentara jelas mahal dan ribet. Nah, di sinilah strategi “cerdas” itu diduga dipakai.
Belanda dianggap memanfaatkan kepercayaan lokal yang sudah hidup di masyarakat. Cerita soal hutan keramat, macan gaib, dan kualat dipercaya diperkuat supaya orang-orang takut masuk ke Leuweung Sancang.
Kalau masyarakat sudah takut duluan, hutan otomatis aman tanpa perlu penjagaan ketat. Bisa dibilang ini cara konservasi murah tapi efektif.
Dengan keyakinan bahwa Sancang adalah wilayah sakral yang nggak boleh dimasuki sembarangan, masyarakat memilih menjauh.
Takut kena bala, takut diserang Maung Sancang, atau takut melanggar pantangan leluhur. Hasilnya? Ekosistem hutan tetap utuh sampai puluhan bahkan ratusan tahun.
Tapi penting dicatat, teori ini bukan berarti menafikan keberadaan Prabu Siliwangi atau menganggap semua cerita itu bohongan.
Justru yang disorot adalah bagaimana kekuasaan politik sering “numpang” di atas mitologi rakyat buat tujuan praktis, dalam hal ini: menjaga hutan.
Sampai sekarang, perdebatan soal ini masih terus berjalan. Apakah kisah Maung Sancang itu murni sejarah dan kepercayaan turun-temurun, atau sebagian adalah hasil “rekayasa halus” Belanda demi konservasi?
Jawabannya belum jelas, karena memang nggak ada bukti tertulis yang benar-benar memastikan salah satu versi secara mutlak.
Yang jelas, entah itu sejarah asli atau strategi kolonial yang cerdik, satu hal nggak bisa dibantah: cerita-cerita itu berhasil menjaga Leuweung Sancang tetap jadi salah satu kawasan hutan paling alami dan murni di Pulau Jawa sampai sekarang.
Krisis Lingkungan Sancang dan Cara Baru Menjaganya
Masuk abad ke-21, Leuweung Sancang lagi-lagi diuji. Tantangan yang datang sekarang beda dan jauh lebih berat dibanding zaman dulu.
Modernisasi, jumlah penduduk yang terus bertambah, dan tekanan ekonomi pelan-pelan meruntuhkan “pagar gaib” yang selama ini bikin kawasan ini aman.
Sejak krisis moneter akhir 1990-an dan masuk era reformasi, kerusakan lingkungan mulai kelihatan jelas.
Banyak area hutan yang diserobot buat lahan pertanian dadakan atau pemukiman sementara. Di saat yang sama, generasi muda juga makin jauh dari cerita Maung Sancang.
Rasa takut dan hormat yang dulu jadi pengaman alami hutan, sekarang mulai luntur. Akibatnya, pohon Kaboa ditebang, satwa langka diburu, semuanya demi uang.
Pembangunan infrastruktur besar seperti jalan lintas selatan juga jadi pedang bermata dua. Di satu sisi, akses yang makin mudah membuka peluang wisata alam dan wisata religi yang bisa bantu ekonomi warga.
Tapi di sisi lain, jalan ini juga jadi pintu masuk berbagai gangguan manusia ke wilayah inti cagar alam. Hutan yang dulu susah dijangkau, sekarang jadi gampang dimasuki siapa saja.
Kondisi ini makin diperparah dengan hasil penelitian terbaru soal hutan mangrove di muara Sungai Cipalawah.
Data menunjukkan kalau hutan bakau di sana lagi nggak baik-baik saja. Jumlah jenis tumbuhannya sedikit, pohonnya jarang, dan banyak yang rusak.
Ini jadi tanda kuat kalau mangrove Sancang sedang tertekan berat akibat perubahan kualitas air dan aktivitas manusia di sekitarnya.
Kalau mau jujur, menjaga Sancang ke depan nggak bisa pakai cara lama doang. Dibutuhkan pendekatan baru yang menggabungkan ilmu pengetahuan modern dengan kearifan lokal yang masih tersisa.
Program seperti penanaman ulang mangrove atau pendataan satwa besar nggak cukup kalau masyarakat cuma dijadikan tenaga kerja.
Warga lokal harus dilibatkan sebagai penjaga adat, karena merekalah pemilik hak ulayat dan pewaris tanah leluhur.
Peran kuncen dan lembaga adat juga perlu diperkuat, terutama dalam pengelolaan wisata religi.
Mereka bisa jadi penghubung antara aturan modern dan nilai-nilai lama, sekaligus menghidupkan lagi rasa hormat terhadap kesakralan kawasan Sancang.
Kalau pendekatan ini bisa jalan bareng, Leuweung Sancang bukan cuma bisa bertahan, tapi tetap menjalankan perannya sebagai penyangga kehidupan dan penjaga ingatan sejarah buat generasi yang akan datang.
Saat Alam, Sejarah, dan Misteri Menyatu
Leuweung Sancang itu bukan cuma cagar alam, tapi semacam monumen hidup yang nyimpan perjalanan panjang peradaban Sunda—dari zaman Pajajaran sampai era modern.
Di tempat ini, batas antara fakta alam dan cerita mitos jadi samar. Yang nyata dan yang gaib saling tumpang tindih, bikin Sancang punya identitas yang kuat: terasa angker, tapi sekaligus bikin penasaran.
Kisah Prabu Siliwangi yang ngahyang di hutan ini memberi nilai spiritual di setiap jengkal tanah Sancang.
Hutan ini jadi lebih dari sekadar kumpulan pohon dan satwa liar. Ia ibarat perpustakaan hidup, tempat nilai-nilai luhur disimpan lewat wangsit, cerita rakyat, dan tradisi lisan yang terus diwariskan.
Memang, ancaman kerusakan lingkungan dan lunturnya kesakralan akibat modernisasi itu nyata.
Tapi di sisi lain, daya tarik Sancang justru tetap hidup lewat misterinya—mulai dari cerita Maung Sancang, sampai lautnya yang dikenal sebagai “kuburan kapal”.
Semua itu terus mengundang peneliti, petualang, peziarah, dan orang-orang yang ingin mencari makna di balik alam.
Ke depan, nasib Leuweung Sancang bakal sangat ditentukan oleh cara kita memandangnya.
Kalau kita cuma lihat Sancang sebagai lahan atau objek ekonomi, cepat atau lambat ia akan rusak.
Tapi kalau kita masih mau menjaga cerita, sejarah, dan mitosnya sebagai dasar etika dalam memperlakukan alam, Sancang punya peluang besar buat tetap bertahan.
Seperti yang tersirat dalam Uga Wangsit Siliwangi, Sancang akan terus memberi perlindungan dan petunjuk bagi mereka yang “rancagĂ© hatĂ©na”—orang-orang yang cerdas hatinya, peka, dan masih mampu menghargai “wangi” sejati warisan leluhur di ujung selatan tanah Jawa. #Sejarah