Sejarah Kerajaan Pajajaran Lengkap "Membahas Budaya, Politik, dan Peradaban Sunda Kuno dengan Santai"

Bagi orang Jawa Barat, nama Kerajaan Pajajaran bukan cuma sekadar nama di buku sejarah, tapi simbol kebanggaan, jati diri, dan bukti kejayaan peradaban Sunda zaman dulu.

Yang menarik — dan sering nggak disadari banyak orang — sebenarnya “Pajajaran” itu bukan nama resmi kerajaannya. Yang benar, Pajajaran adalah nama ibu kota dari Kerajaan Sunda. 

Tapi karena pusat pemerintahannya di sana, lama-lama orang jadi menyebut seluruh kerajaan itu sebagai Pajajaran.

Fenomena kayak gini sebenernya umum banget di Asia Tenggara: ibu kota atau pusat kekuasaan sering dianggap mewakili seluruh kerajaan. 

Jadi, ketika orang bilang “Pajajaran,” yang dimaksud sebenarnya adalah keseluruhan Kerajaan Sunda dengan segala sejarah, budaya, dan kejayaannya.

Kerajaan Pajajaran — atau sebenarnya lebih tepat disebut Kerajaan Sunda dengan ibu kota di Pakuan Pajajaran — sudah berdiri sejak lama banget, jejaknya bisa ditarik sampai sekitar abad ke-10. 

Tapi jujur aja, yang paling nempel di ingatan banyak orang bukan awal berdirinya, melainkan masa kejayaannya di bawah kepemimpinan Sri Baduga Maharaja, alias Prabu Siliwangi, yang memerintah sekitar tahun 1482–1521 M.

Di zamannya inilah Pajajaran benar-benar lagi di puncak: kuat secara politik, makmur secara ekonomi, dan stabil secara sosial. 

Banyak orang Sunda sampai sekarang melihat periode ini sebagai “masa emas” kepemimpinan di tanah Pasundan — zaman ketika kerajaan berjalan rapi, rakyat hidup relatif sejahtera, dan wibawa Pajajaran disegani kerajaan lain. 

Secara sejarah, Kerajaan Pajajaran biasanya dianggap mulai berdiri sekitar tahun 923 Masehi, didirikan oleh Sri Jayabhupati. 

Hal ini didukung oleh temuan Prasasti Sanghyang Tapak di Sukabumi, yang menyebut Jayabhupati sebagai “Haji-ri Sunda” atau Raja Sunda — tanda bahwa ia resmi memegang kekuasaan atas wilayah Sunda saat itu.

Tapi, kondisi politik di Jawa Barat zaman dulu ternyata nggak sesederhana itu. Wilayah ini sebenarnya terbagi menjadi dua kekuatan besar yang sama-sama berpengaruh: di barat Sungai Citarum ada Kerajaan Sunda, sementara di timurnya berdiri Kerajaan Galuh. 

Keduanya punya hubungan yang naik-turun — kadang bekerja sama, kadang bersaing — dan dinamika inilah yang ikut membentuk perjalanan sejarah Pakuan Pajajaran. 

Dua kerajaan ini sebenarnya punya akar budaya yang sama, tapi pusat pemerintahannya sering beda tempat. 

Galuh berpusat di kawasan Kawali, Ciamis, sementara Sunda berpusat di Pakuan, daerah Bogor sekarang.

Nah, titik balik paling penting terjadi di tahun 1482, ketika Sri Baduga Maharaja resmi memegang kekuasaan atas kedua kerajaan sekaligus. 

Momen ini bukan cuma soal menyatukan wilayah, tapi juga menyatukan arah politik dan budaya. 

Sejak saat itu, Pakuan Pajajaran berubah jadi pusat kekuatan utama di Pulau Jawa — semacam “magnet peradaban” yang menarik perhatian kerajaan lain. 

Sepanjang sejarahnya, Pajajaran dipimpin oleh banyak raja, dan tiap raja punya gaya serta pengaruh yang berbeda-beda pada zamannya. 

Beberapa di antaranya dikenal karena kebijakannya, ada yang terkenal karena kekuatannya, dan ada juga yang dikenang karena perannya dalam menyatukan wilayah.

Catatan tentang siapa saja raja-raja Pajajaran ini bisa kita temukan di berbagai sumber lama, seperti naskah Carita Parahyangan dan Babad Pajajaran, yang jadi rujukan utama para sejarawan sampai sekarang. 

Sri Jayabhupati (mulai 923 M, pusat di Pakuan)

Dia dianggap sebagai pendiri awal Kerajaan Sunda. Namanya tercatat jelas di Prasasti Sanghyang Tapak, jadi ini salah satu bukti sejarah paling kuat tentang keberadaannya.

Sri Baduga Maharaja / Prabu Siliwangi (1482–1521 M, Pakuan)

Ini masa emas Pajajaran. Di tangannya, Sunda dan Galuh akhirnya bersatu, kekuasaan makin kuat, rakyat relatif makmur, dan Pakuan jadi pusat besar di Jawa Barat.

Surawisesa (1521–1535 M, Pakuan)

Ia melanjutkan pemerintahan setelah Siliwangi. Zaman ini cukup tegang karena Pajajaran mulai berhadapan dengan Demak, tapi juga sempat menjalin hubungan dengan Portugis. 

Ratu Dewata (1535–1543 M, Pakuan)

Masa transisi yang mulai goyah. Konflik internal mulai muncul, dan tekanan dari luar kerajaan makin terasa.

Ratu Sakti (1543–1551 M, Pakuan)

Tetap memerintah dari Pakuan, tapi situasinya makin berat karena ancaman dari kerajaan-kerajaan sekitar.

Ratu Nilakendra (1551–1567 M, Pakuan → pindah)

Karena serangan dari Banten makin kuat, ia akhirnya terpaksa meninggalkan ibu kota Pakuan. Ini tanda bahwa kekuatan Pajajaran mulai melemah.

Raga Mulya (1567–1579 M, Pandeglang)

Raja terakhir Pajajaran. Ia memerintah dari Pandeglang dan akhirnya gugur dalam serangan besar Kesultanan Banten — menandai runtuhnya Pajajaran. 

Menariknya, ibu kota Kerajaan Pajajaran itu memang sering pindah-pindah, dan ini bukan kebetulan. 

Justru dari sinilah kita bisa paham kenapa di Jawa Barat nggak banyak candi besar seperti Borobudur atau Prambanan.

Orang Sunda zaman dulu cenderung hidup lebih fleksibel dan nggak menetap di satu tempat selama ratusan atau ribuan tahun. 

Hal ini sangat dipengaruhi oleh sistem pertanian huma (ladang berpindah), yang memang menuntut mereka untuk terus bergerak mengikuti kondisi tanah dan alam. 

Makanya, mereka nggak terlalu fokus membangun monumen batu raksasa yang permanen. 

Sebaliknya, mereka lebih memprioritaskan hal-hal yang benar-benar berguna untuk kehidupan sehari-hari — seperti infrastruktur yang fungsional, sistem pertanian yang selaras dengan alam, dan menjaga keseimbangan lingkungan.

Singkatnya, mereka lebih pilih hidup harmonis dengan alam daripada meninggalkan bangunan megah yang kaku dan statis. 

Zaman Prabu Siliwangi 

Nama Prabu Siliwangi sudah jauh melampaui sekadar tokoh sejarah — dia jadi legenda yang hidup dalam cerita rakyat Sunda sampai sekarang. 

Secara bahasa, nama “Siliwangi” berasal dari kata silih (pengganti) dan wangi (harum). Jadi kurang lebih artinya “pengganti Raja Wangi”.

Gelar ini punya makna emosional yang dalam, karena Sri Baduga Maharaja ingin mengembalikan kehormatan kerajaan setelah tragedi besar Peristiwa Bubat, yang menewaskan leluhurnya dan meninggalkan luka sejarah bagi Tatar Sunda. 

Di bawah kepemimpinannya, Pajajaran benar-benar berada di level terbaiknya. Bukan cuma kuat dalam perang dan politik, tapi juga makmur dalam perdagangan, rapi dalam pemerintahan, dan relatif stabil dalam kehidupan sosial rakyatnya. 

Banyak orang menganggap era ini sebagai masa paling ideal dalam sejarah Sunda — ketika kerajaan berdiri tegak, berwibawa, dan sejahtera. 

Sri Baduga Maharaja dikenal bukan cuma sebagai raja yang karismatik, tapi juga pemimpin yang benar-benar mikirin masa depan rakyatnya. 

Dari keterangan di Prasasti Batutulis, kita bisa lihat kalau dia serius banget membangun berbagai fasilitas yang bikin kehidupan masyarakat lebih aman dan sejahtera.

Bukan pembangunan asal megah, tapi yang benar-benar berguna buat hidup sehari-hari — mulai dari pengelolaan air, jalan, sampai sistem pertahanan. 

Intinya, di zamannya, pembangunan itu punya arah yang jelas: memudahkan hidup rakyat dan memperkuat kerajaan.

Beberapa kebijakan penting Prabu Siliwangi yang benar-benar berdampak ke kehidupan rakyatnya antara lain:

Pengerasan jalan

Dia membangun dan memperbaiki jalan-jalan utama yang menghubungkan Pakuan dengan daerah sekitar sampai ke pelabuhan. 

Tujuannya simpel tapi penting: biar perdagangan lancar, orang bisa bepergian lebih mudah, dan pasukan bisa bergerak cepat kalau ada ancaman.

Parit pertahanan di sekitar ibu kota

Pakuan dikelilingi parit-parit besar dan dalam sebagai benteng alami. Bukan cuma keren secara strategi, tapi juga efektif buat bikin musuh mikir dua kali sebelum menyerang. 

Hutan Samida

Ini semacam “hutan khusus kerajaan” — gabungan antara taman perburuan dan kawasan konservasi. 

Banyak pohon langka dilindungi di sini, sekaligus menjaga keseimbangan alam di sekitar ibu kota. 

Menariknya, area ini diyakini jadi cikal bakal Kebun Raya Bogor yang kita kenal sekarang.

Telaga Maharena Wijaya

Prabu Siliwangi juga membangun telaga besar yang berfungsi ganda: buat irigasi sawah dan ladang, sekaligus tempat ritual spiritual masyarakat Sunda waktu itu. 

Di zaman Prabu Siliwangi, Pajajaran terkenal punya kekuatan militer yang sangat besar. 

Catatan sejarah menyebutkan bahwa kerajaan ini memiliki sekitar 100.000 prajurit, ditambah pasukan khusus yang didukung oleh 40 ekor gajah perang — bayangin betapa megahnya barisan tempur mereka waktu itu.

Dengan kekuatan sebesar ini, Pajajaran mampu menjaga wilayah kekuasaannya yang membentang dari Banten di barat sampai Sungai Cimanuk di timur. 

Tapi yang menarik, kekuatan sebesar itu bukan dipakai buat menyerang atau menaklukkan wilayah lain secara brutal. 

Sebaliknya, Prabu Siliwangi lebih memilih memakai militernya untuk menjaga keamanan, melindungi rakyat, dan memastikan stabilitas kerajaan. 

Fokusnya bukan ekspansi, tapi perdamaian dan ketertiban — biar perdagangan jalan, desa-desa aman, dan kehidupan masyarakat tetap tenang. 

Di masa Prabu Siliwangi, toleransi beragama ternyata sudah jalan banget. Meskipun beliau sendiri adalah penganut Hindu yang taat, sikapnya jauh dari kaku atau tertutup. 

Justru sebaliknya — ia sangat terbuka terhadap Islam yang mulai masuk ke tanah Sunda lewat jalur perdagangan.

Buktinya paling nyata adalah pernikahannya dengan Nyai Subang Larang, seorang Muslimah. 

Bukan cuma itu, Prabu Siliwangi juga memberi kebebasan penuh kepada anak-anaknya untuk memilih agama mereka sendiri, termasuk memeluk Islam. 

Sikap ini menunjukkan kalau pluralisme dan saling menghormati sudah hidup di Tatar Sunda sejak abad ke-15. 

Hasilnya? Masyarakat dengan latar belakang berbeda bisa hidup berdampingan tanpa konflik besar — perdagangan jalan, budaya berkembang, dan kehidupan sosial terasa lebih harmonis. 

Masyarakat Pajajaran zaman dulu sebenarnya sudah punya sistem sosial yang cukup rapi. Bukan asal hidup, tapi tiap orang punya peran masing-masing yang saling melengkapi biar kehidupan kerajaan tetap berjalan.

Pembagian peran ini bukan cuma soal siapa yang “lebih tinggi” atau “lebih rendah,” tapi lebih ke fungsi nyata dalam masyarakat. 

Ada yang bertani, ada yang berdagang, ada yang mengurus pemerintahan, ada yang jadi prajurit — semuanya punya tempat dan kontribusi sendiri buat keberlangsungan kerajaan.

Jadi, sistem sosial Pajajaran lebih mirip kerja tim besar daripada struktur kasta yang kaku dan menekan. 

Kalau kita lihat dari naskah-naskah lama, masyarakat Pajajaran itu sebenarnya sudah sangat teratur. 

Bukan acak-acakan, tapi seperti ekosistem: tiap orang punya peran penting biar kerajaan tetap jalan. Kurang lebih begini pembagiannya:

Raja dan bangsawan

Ini posisi paling atas. Mereka bukan cuma penguasa, tapi juga dianggap pelindung rakyat dan penjaga keseimbangan dunia — semacam wakil ilahi di bumi versi Sunda kuno. 

Pandita dan rohaniwan

Mereka yang urus hal spiritual: memimpin upacara, memberi nasihat kepada raja, dan menjaga naskah-naskah kuno. Bisa dibilang ini “kelas intelektual dan spiritual” zamannya.

Pahuma (petani ladang)

Ini tulang punggung kehidupan pedalaman. Mereka menggarap ladang dengan sistem huma, menghasilkan pangan yang menghidupi banyak orang. Tanpa mereka, kerajaan bisa kelaparan.

Puhawang (pelaut/pedagang)

Para penggerak ekonomi laut. Mereka berlayar, berdagang, dan menghubungkan Pajajaran dengan dunia luar lewat pelabuhan-pelabuhan penting.

Marangguy (pengukir dan perajin)

Para kreator zamannya. Mereka bikin alat, perhiasan, patung, dan karya seni yang jadi identitas budaya Sunda kuno. 

Palika (nelayan)

Penyedia lauk pauk dari sungai dan laut — protein utama masyarakat pesisir dan sekitar perairan.

Golongan seniman

Para penari dan pemain gamelan yang menjaga keindahan budaya. Mereka bukan cuma hiburan, tapi juga bagian penting dari ritual dan tradisi kerajaan. 

Kalau kerajaan di Jawa Tengah banyak mengandalkan sawah irigasi, Pajajaran beda cerita. Masyarakatnya lebih bergantung pada pertanian huma atau ladang berpindah.

Wilayah Jawa Barat yang subur bikin orang Sunda zaman dulu bisa membuka ladang di berbagai tempat sesuai kondisi tanah. 

Kebiasaan ini pelan-pelan membentuk karakter masyarakat Sunda yang fleksibel, dekat dengan alam, dan punya semangat kebebasan tinggi — nggak terlalu terikat pada satu lokasi.

Hasil utama pertanian mereka biasanya padi ladang, berbagai macam sayur, dan buah-buahan hutan. 

Semua itu jadi sumber pangan utama sekaligus penopang kehidupan sehari-hari masyarakat Pajajaran. 

Di sisi lain, perdagangan lewat laut jadi motor besar ekonomi Pajajaran. Kerajaan ini punya enam pelabuhan utama yang ramai banget, terutama untuk ekspor lada.

Lada dari tanah Sunda waktu itu terkenal berkualitas tinggi — bukan main-main, bahkan dianggap salah satu yang terbaik di dunia. 

Karena itu, banyak pedagang asing berdatangan: dari Tiongkok, India, sampai akhirnya bangsa Eropa ikut masuk untuk berburu lada Sunda.

Singkatnya, Pajajaran bukan cuma kuat di darat, tapi juga jadi pemain penting di jalur perdagangan internasional lewat laut.  

Dulu, kekuatan ekonomi Pajajaran di laut bertumpu pada beberapa pelabuhan utama yang ramai banget. Kurang lebih perannya seperti ini:

Banten (Serang, Banten sekarang)

Ini bisa dibilang “hub ekspor utama”-nya Pajajaran, terutama untuk lada. Dari sini banyak kapal asing berangkat membawa rempah ke berbagai negeri.

Pontang (Serang, Banten)

Lebih ke pelabuhan pendukung. Fungsinya buat distribusi logistik dan perdagangan lokal biar arus barang tetap lancar.

Cigede (Tangerang/Banten)

Jalur keluar-masuk hasil hutan dan pertanian dari wilayah pedalaman ke pesisir. Semacam jalur penghubung ekonomi darat dan laut. 

Tamgara (Tangerang)

Tempat ngumpulin berbagai komoditas dari pedalaman sebelum dikirim ke pelabuhan besar lainnya.

Kalapa / Sunda Kelapa (Jakarta sekarang)

Ini pelabuhan paling strategis dan paling “internasional”. Banyak pedagang asing singgah di sini, bikin Kalapa jadi gerbang utama Pajajaran ke dunia luar.

Cimanuk (Indramayu)

Sekaligus jadi batas wilayah timur Pajajaran dan jalur penting perdagangan lada ke arah timur Jawa. 

Karena ekonominya sudah cukup maju, Pajajaran punya ruang buat “baik” ke rakyatnya. 

Di masa Prabu Siliwangi, kerajaan bahkan menerapkan kebijakan keringanan pajak untuk beberapa desa tertentu.

Bukan tanpa alasan — tujuan utamanya supaya warga makin semangat bekerja, hasil panen meningkat, dan masyarakat lebih patuh pada aturan kerajaan. 

Jadi bukan cuma tarik pajak, tapi juga kasih dukungan biar ekonomi rakyat ikut naik bareng kerajaan.

Singkatnya: makin makmur kerajaan, makin terasa manfaatnya buat masyarakat bawah juga. 

Salah satu cerita paling seru dalam sejarah Pajajaran adalah ketika kerajaan ini mulai “main di panggung global” di awal abad ke-16. 

Waktu itu, Pajajaran sedang menghadapi tekanan besar dari Kesultanan Demak dan Cirebon yang makin kuat dan terus meluas pengaruhnya.

Alih-alih cuma bertahan sendirian, Pajajaran memilih langkah yang cukup berani untuk zamannya: menjalin kerja sama dengan bangsa Eropa yang baru datang ke Nusantara, yaitu Portugis. 

Keputusan ini menunjukkan kalau Pajajaran bukan kerajaan yang tertutup — mereka paham politik internasional dan berani mengambil langkah strategis demi menjaga kedaulatan wilayahnya. 

Cerita ini berawal ketika Prabu Surawisesa mengirim utusan ke Malaka untuk menjajaki kerja sama dengan Portugis, baik di bidang militer maupun perdagangan.

Titik klimaksnya terjadi pada 21 Agustus 1522, saat sebuah perjanjian resmi ditandatangani di Pakuan oleh perwakilan Portugis bernama Henrique Leme. 

Perjanjian ini sering disebut sebagai salah satu perjanjian luar negeri tertulis pertama di Nusantara yang melibatkan bangsa Eropa — cukup keren untuk ukuran zamannya.

Secara garis besar, isi perjanjian itu kurang lebih seperti ini:

Pembangunan benteng di Sunda Kelapa

Portugis diizinkan membangun benteng di Pelabuhan Kalapa (Sunda Kelapa) sebagai basis militer. Tujuannya jelas: membantu Pajajaran menahan ancaman dari Demak. 

Setoran lada tiap tahun

Sebagai imbalan kerja sama, Pajajaran sepakat mengirim 1.000 karung lada setiap tahun ke Portugis. Lada ini jadi semacam “bayaran” atas bantuan militer mereka.

Perlindungan militer dari Portugis

Sebagai balasannya, Portugis berjanji memberikan bantuan senjata dan menjaga perairan Pajajaran dari serangan musuh.

Singkatnya, Pajajaran dapat perlindungan militer, Portugis dapat akses lada — deal politik dan ekonomi yang saling menguntungkan (setidaknya di atas kertas). 

Sebagai penanda resmi perjanjian itu, Portugis mendirikan sebuah tugu batu peringatan yang disebut PadrĂ£o di kawasan Pelabuhan Kalapa. 

Secara diplomasi, langkah Pajajaran ini sebenarnya cukup maju dan visioner untuk zamannya.

Tapi kenyataannya, di lapangan hasilnya berbeda. Sebelum Portugis sempat membangun benteng seperti yang disepakati, pasukan aliansi Islam di bawah pimpinan Fatahillah lebih dulu merebut Sunda Kelapa pada tahun 1527. 

Peristiwa ini mengubah peta kekuasaan di pesisir utara Jawa Barat secara drastis dan permanen. Sejak saat itu, dominasi Pajajaran di wilayah pantai makin melemah. 

Kalau mau benar-benar memahami cara berpikir dan nilai hidup masyarakat Pajajaran, kita perlu melihat naskah Sanghyang Siksakandang Karesian (SSKK) yang ditulis sekitar tahun 1518.

Naskah ini bukan cuma kitab keagamaan, tapi semacam “panduan hidup” orang Sunda kuno. 

Isinya membahas tata krama, etika, spiritualitas, dan prinsip moral supaya manusia bisa menjadi “manusia utama” — yaitu pribadi yang bijak, beradab, dan selaras dengan alam serta sesama.

Bisa dibilang, SSKK adalah cermin jiwa masyarakat Pajajaran: religius, beretika, menghormati alam, dan menjunjung tinggi harmoni sosial. 

Dalam naskah SSKK, ada ajaran penting yang disebut Dasakreta — intinya sepuluh prinsip hidup yang bikin manusia lebih baik dan hidup lebih seimbang. 

Fokus utamanya adalah mengendalikan diri, menjaga pikiran tetap bersih, dan bertindak dengan bijak. Beberapa aturan praktis yang diajarkan antara lain:

Cara berpakaian

Pakaian bukan cuma soal penutup tubuh, tapi tanda adab dan kehormatan. Orang diajarkan berpakaian rapi dan pantas sesuai perannya di masyarakat. 

Kebersihan dan kesehatan

SSKK cukup detail mengatur soal mandi, merawat gigi, dan menjaga lingkungan tetap bersih. Jadi urusan higienitas sudah jadi perhatian serius sejak dulu.

Etika makan dan minum

Prinsipnya simpel: makan secukupnya untuk menghilangkan lapar, minum secukupnya untuk menghilangkan haus — jangan berlebihan. Seimbang, bukan rakus.

Sikap kepada pemimpin

Rakyat diajarkan setia pada tugasnya serta menghormati raja dan para pandita sebagai pembimbing spiritual dan moral. 

Kuliner Sunda Zaman Pajajaran 

Yang menarik, SSKK juga ngasih gambaran soal makanan orang Sunda zaman dulu — dan banyak yang masih mirip dengan cara masak sekarang. Misalnya:

Beubeuleuman — teknik membakar langsung di atas api.

Papanggangan — cara memanggang makanan.

Rarameusan — aneka masakan berbumbu rempah yang dicampur dan diolah bersama.

Ikan kembung (ikan rumahan) — salah satu ikan favorit, populer baik di pesisir maupun pedalaman. 

Intinya, hidup orang Pajajaran itu bukan cuma soal cari untung dari perdagangan lada. Mereka juga sangat peduli pada ketenangan batin, etika sosial, dan harmoni dengan alam.

Mereka kaya secara ekonomi, tapi tetap “waras” secara spiritual — dan itu yang bikin peradaban mereka terasa berkelas sampai hari ini. 

Sejarah Pajajaran bukan cuma tentang raja dan perang. Di balik layar, ada sosok-sosok perempuan kuat yang ikut membentuk arah politik, budaya, dan nilai-nilai kerajaan. 

Menariknya, perempuan di Tatar Sunda waktu itu punya posisi yang cukup dihormati — bukan cuma di istana, tapi juga di masyarakat.

Dyah Pitaloka dan Tragedi Bubat (1357)

Dyah Pitaloka Citraresmi sampai sekarang dikenang sebagai simbol harga diri Kerajaan Sunda.

Ceritanya berawal dari rencana pernikahan antara Dyah Pitaloka dan Raja Hayam Wuruk dari Majapahit. 

Awalnya niatnya baik, tapi situasi berubah panas karena manuver politik Gajah Mada. 

Akhirnya pecah Perang Bubat — pertempuran yang sangat tidak seimbang. 

Setelah ayahnya gugur, Dyah Pitaloka memilih bela pati (mengakhiri hidupnya sendiri) demi menjaga martabat keluarganya dan Kerajaan Sunda.

Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam antara Sunda dan Jawa yang terasa sampai berabad-abad kemudian. 

Nyai Subang Larang 

Nyai Subang Larang adalah istri Prabu Siliwangi yang sangat berpengaruh.

Ia berasal dari keluarga muslim — putri Ki Gedeng Tapa, syahbandar Muara Jati — dan belajar agama di Pesantren Syekh Quro di Karawang.

Lewat dirinya, ajaran Islam mulai dikenal lebih dekat di lingkungan istana Pajajaran. 

Tapi yang paling keren: perbedaan agama ini tidak memecah kerajaan, malah jadi bukti bahwa Pajajaran sangat terbuka dan toleran.

Satu istana, beda keyakinan — tapi tetap harmonis. Ini level pluralisme yang maju banget untuk zamannya. 

Nyai Kentring Manik Mayang Sunda 

Nyai Kentring Manik Mayang Sunda adalah putri Prabu Susuktunggal dan istri Prabu Siliwangi.

Pernikahan mereka bukan sekadar urusan cinta, tapi strategi politik cerdas. Lewat dirinya, garis keturunan Sunda dan Galuh bisa dipersatukan kembali.

Dari pernikahan inilah lahir Prabu Surawisesa, yang kelak memimpin Pajajaran di masa-masa paling berat menghadapi tekanan Demak dan kerajaan Islam di pesisir. 

Seiring waktu, kekuatan Pajajaran mulai tergerus. Kesultanan Banten dan Cirebon semakin kuat di pesisir utara dan terus menekan wilayah Pajajaran dari berbagai arah. Serangan demi serangan membuat kekuasaan kerajaan makin menyusut.

Di dalam negeri pun muncul masalah: krisis kepemimpinan, konflik internal, dan ketidakstabilan setelah masa Prabu Siliwangi. Semua ini membuat pertahanan Pajajaran makin rapuh. 

Tahun 1579 jadi tahun paling kelam bagi Pajajaran. Di bawah pimpinan Maulana Yusuf dari Banten, pasukan besar menyerang ibu kota Pakuan. 

Menurut naskah Carita Parahyangan, kota itu terbakar hebat — istana runtuh, kemegahan lenyap, dan kejayaan berakhir dalam satu malam tragis.

Sebagai simbol kemenangan total, Maulana Yusuf membawa pergi Palangka Sriman Sriwacana — singgasana batu tempat pelantikan raja-raja Pajajaran — ke Keraton Surosowan di Banten. 

Langkah ini punya makna sangat dalam: tanpa singgasana itu, tidak ada lagi raja yang bisa dinobatkan di Pakuan. Secara tradisi, ini menandai tamatnya garis kekuasaan Pajajaran. 

Setelah Pakuan runtuh, muncul cerita menarik di daerah Lebak, Banten. 

Banyak orang percaya bahwa sebagian pengikut setia Pajajaran — termasuk pejabat istana — memilih meninggalkan kota dan masuk ke daerah pegunungan untuk mempertahankan cara hidup lama mereka.

Dari sinilah lahir komunitas yang kita kenal sebagai Suku Baduy atau Urang Kanekes. 

Namun, soal siapa mereka sebenarnya, para ahli masih berbeda pendapat. Ada dua teori yang paling sering dibahas: 

1) Teori Pelarian

Menurut teori ini, orang Baduy adalah sisa-sisa masyarakat Pajajaran yang menolak pengaruh Islam dan perubahan zaman. 

Mereka memilih mengasingkan diri ke Pegunungan Kendeng agar bisa hidup sesuai tradisi leluhur tanpa campur tangan luar.

2) Teori Mandala (Penjaga Kawasan Suci)

Teori lain bilang, Baduy bukan “pelarian”, tapi memang sudah lama tinggal di wilayah itu. Sejak zaman kerajaan, mereka dipercaya raja sebagai penjaga Mandala — kawasan suci kabuyutan.

Tugas mereka bukan politik atau perang, melainkan menjaga keseimbangan alam, menjalani ritual tapa, dan memastikan keharmonisan bumi tetap terjaga. 

Apa pun versinya, satu hal jelas: sampai sekarang masyarakat Baduy masih memegang kuat Pikukuh — aturan adat yang sangat ketat.

Mereka menolak teknologi modern, melarang perubahan besar pada alam, dan membatasi pengaruh budaya luar. 

Karena itu, banyak orang menyebut Baduy sebagai “museum hidup” Sunda kuno — karena cara hidup, spiritualitas, dan tradisi mereka masih sangat mirip dengan zaman Pajajaran. 

Salah satu alasan kenapa Pajajaran tetap hidup dalam ingatan orang Sunda adalah karena banyaknya cerita mistis yang menyelimuti sejarahnya.

Yang paling terkenal tentu legenda bahwa Prabu Siliwangi berubah menjadi macan putih (harimau) — simbol penjaga hutan dan pelindung tanah Sunda.

Cerita ini membuat Siliwangi bukan cuma tokoh sejarah, tapi juga figur spiritual yang dipercaya “masih ada” menjaga Tatar Sunda sampai hari ini. 

Dalam kepercayaan orang Sunda, Prabu Siliwangi tidak dianggap wafat seperti manusia biasa. 

Ia dipercaya melakukan ngahiyang — menghilang secara gaib — bersama pengikut setianya di Hutan Sancang.

Kisah populer menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi karena Siliwangi tidak mau berperang melawan putranya sendiri, Kian Santang, yang mengajaknya memeluk Islam. 

Daripada menumpahkan darah sesama keluarga dan rakyatnya, ia memilih “menepi dari dunia.”

Transformasi menjadi maung putih (harimau) sering dimaknai bukan secara harfiah, tapi sebagai simbol kekuatan, kewibawaan, keberanian, dan perlindungan terhadap tanah Sunda.

Secara lebih rasional, cerita ini bisa dibaca sebagai kiasan bahwa Siliwangi memilih mengundurkan diri dari kekuasaan dan hidup tersembunyi, ketimbang memicu perang saudara yang merobek bangsanya sendiri. 

Sebelum “ngahiyang,” Prabu Siliwangi dipercaya meninggalkan pesan ramalan yang disebut Uga Wangsit Siliwangi. Inti pesannya kira-kira begini:

Pajajaran akan “hilang” dari dunia nyata — bukan musnah, tapi tersembunyi dalam sejarah, ingatan, dan spiritualitas Sunda. 

Suatu hari, ia akan kembali dipahami oleh orang-orang yang berhati jernih, tidak serakah, dan berpikir tajam.

Ramalan ini juga mengingatkan bahwa suatu masa akan datang ketika sejarah dipelintir, dibelokkan, atau dimanipulasi oleh mereka yang merasa paling benar dan paling pintar. 

Dan di tengah kekacauan itu, akan muncul sosok misterius yang disebut Budak Angon (anak gembala) — simbol figur sederhana, rendah hati, tapi tercerahkan — yang akan membuka kembali tabir kebenaran tentang masa lalu Pajajaran. 

Kalau disederhanakan, makna besarnya seperti ini: 

Siliwangi = bukan cuma raja, tapi “roh penjaga Sunda.”

Maung putih = simbol kekuatan moral, bukan monster hutan.

Uga Wangsit = pengingat agar kita kritis pada sejarah, tidak gampang ditipu narasi sepihak.

Budak Angon = metafora bahwa kebenaran bisa datang dari orang biasa, bukan cuma akademisi atau penguasa. 

Meski Pakuan telah runtuh dan apinya lama padam, bayang-bayang kejayaan Pajajaran tidak sepenuhnya lenyap. 

Ia tertinggal bukan dalam istana megah atau tembok batu, melainkan terpatri dalam prasasti, bebatuan sakral, dan lanskap alam Jawa Barat yang senyap namun sarat makna.

Arkeologi modern perlahan mengangkat tirai masa lalu itu. Di berbagai titik tanah Sunda, para peneliti menemukan fragmen-fragmen peradaban yang membuktikan bahwa Pajajaran bukan sekadar legenda — ia pernah hidup, berkuasa, dan membentuk sejarah. 

Jejak-jejak ini tersebar seperti rasi bintang di peta Tatar Sunda: dari Bogor hingga Sukabumi, dari Ciamis hingga Jakarta, masing-masing menyimpan kisah yang menunggu untuk dibaca ulang.

Penanda-Penanda Sakral Tanah Sunda

Situs Batutulis (Bogor)

Di sinilah denyut jantung Pajajaran masih terasa. Batu andesit berbentuk gunungan menyimpan sembilan baris prasasti Sunda Kuno — semacam “dokumen negara” yang menegaskan garis keturunan Prabu Siliwangi sebagai putra Rahyang Dewa Niskala dan cucu Rahyang Niskala Wastu Kancana. 

Batu tapak kaki dan lingga di sekitarnya menambah aura sakral tempat ini, seolah tanahnya masih menyimpan jejak langkah sang raja. 

Situs Kawali (Ciamis)

Bekas pusat pemerintahan Galuh yang sunyi, namun agung. Enam prasasti batu berdiri seperti penjaga bisu yang menyimpan memori politik dan spiritual kerajaan di masa lampau.

Situs Sanghyang Tapak (Sukabumi)

Prasasti yang menandai wilayah suci yang ditetapkan oleh Jayabhupati — bukti bahwa kekuasaan Pajajaran tidak hanya bersifat politis, tetapi juga kosmologis dan religius.

Prasasti Padrao (Jakarta)

Batu peringatan perjanjian dengan Portugis — saksi bisu bahwa Pajajaran pernah berdiri di panggung diplomasi dunia sebelum akhirnya digulung arus sejarah. 

Situs Subang Larang (Subang)

Jejak masa prasejarah hingga awal sejarah yang terkait dengan sosok Nyai Subang Larang, perempuan yang menjembatani dua dunia: Sunda dan Islam.

Situs Embah Congkrang (Bogor)

Batu berlubang dan menhir yang menandai kontinuitas tradisi megalitik, memperlihatkan bahwa akar spiritual Sunda jauh lebih tua daripada kerajaan itu sendiri. 

Pajajaran tidak sekadar runtuh — ia bertransformasi. Bukan lagi sebagai kerajaan politik, melainkan sebagai warisan batin masyarakat Sunda.

Nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh menjadi gema filosofis dari masa lalu, saling mencerdaskan, saling mengasihi, saling melindungi.

Ini adalah etika yang dulu hidup di bawah kepemimpinan raja-raja bijaksana, dan kini tetap berdenyut dalam budaya Sunda kontemporer.

Dalam arti tertentu, Pajajaran tidak pernah benar-benar hilang. Ia berpindah dari istana ke ingatan, dari singgasana ke nilai, dari kekuasaan ke identitas. 

Dan selama nilai-nilai itu masih dipegang, roh Pajajaran tetap berjalan bersama masyarakat Sunda — sunyi, namun abadi. 

Keberhasilan Pajajaran mengelola ekonomi agraris sekaligus maritim menunjukkan satu hal penting: jauh sebelum istilah “pembangunan berkelanjutan” populer, Nusantara sudah mempraktikkannya. 

Sawah, hutan, sungai, dan laut bukan diperlakukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai ekosistem yang harus dijaga keseimbangannya. 

Dalam skema ini, kemakmuran ekonomi berjalan seiring dengan harmoni alam dan tatanan sosial.

Langkah diplomasi Prabu Surawisesa dengan Portugis semakin menegaskan bahwa Pajajaran bukan kerajaan yang tertutup atau terpinggirkan. 

Sebaliknya, ia berdiri sebagai aktor aktif dalam pusaran politik global abad ke-16 — bernegosiasi, berstrategi, dan membaca arus kekuasaan dunia dengan kecerdasan yang jauh melampaui zamannya. 

Jejak Pajajaran pun tidak berhenti pada reruntuhan atau prasasti. Ia bertransformasi menjadi simbol hidup dalam kebudayaan Jawa Barat. 

Kujang, lebih dari sekadar senjata, menjelma sebagai lambang keteguhan, keberanian, dan kebijaksanaan. 

Maung Siliwangi bukan sekadar ikon, melainkan metafora tentang kekuatan yang melindungi tanah Sunda.

Di sisi lain, ritual Seren Taun yang masih lestari di desa-desa adat menjadi bukti paling nyata bahwa warisan spiritual Pajajaran tetap berdenyut. 

Perayaan ini bukan nostalgia romantis semata — melainkan praktik nyata rasa syukur, keselarasan dengan alam, dan etika kolektif yang diwariskan berabad-abad. 

Maka benar, kota Pajajaran mungkin telah lenyap ditelan sejarah, tetapi jiwanya tidak pernah runtuh. 

Ia hidup dalam kearifan lokal, dalam ritus agraris, dalam filosofi hidup orang Sunda, dan dalam cara mereka memandang dunia.

Pajajaran tidak sekadar masa lalu — ia adalah memori, identitas, dan kompas moral yang masih menuntun tanah Pasundan hingga hari ini. #Sejarah